Laut yang Menyimpan Nama
Oleh: Sakhiya Hilma Maulida
Malam itu laut tidak tenang. Angin datang dari arah barat dengan suara panjang yang menyerupai rintihan. Ombak memukul karang tanpa henti, seolah laut sedang mencoba mengatakan sesuatu kepada daratan. Di tepi pantai yang gelap itu berdiri seorang gadis bernama **Lautra**, memandang ke arah laut yang bergolak.
Bagi orang lain, malam seperti itu
adalah alasan untuk tetap tinggal di rumah.
Tetapi bagi Lautra, laut justru
memanggilnya.
Sejak kecil ia sudah mengenal suara
ombak lebih baik daripada suara kota. Ia tumbuh di desa nelayan yang hampir
seluruh hidupnya bergantung pada laut. Ayahnya seorang pelaut yang jarang
pulang, sementara ibunya selalu berkata bahwa laut adalah sahabat sekaligus
ujian bagi manusia.
“Laut memberi kehidupan,” kata ibunya
suatu kali,
“tapi laut juga mengajarkan manusia
tentang kehilangan.”
Dulu Lautra tidak mengerti maksud
kalimat itu.
Baginya, laut adalah tempat yang penuh
kebebasan. Tempat di mana perahu-perahu kecil berangkat setiap pagi dan kembali
saat matahari mulai turun. Tempat di mana burung camar berteriak di langit dan
anak-anak berlari di pasir tanpa memikirkan apa pun.
Namun suatu malam bertahun-tahun lalu,
laut berubah menjadi sesuatu yang lain.
Malam itu badai datang tiba-tiba.
Angin melolong seperti hewan yang
terluka. Ombak naik lebih tinggi dari biasanya, menghantam pantai dengan
kekuatan yang membuat tanah bergetar. Banyak perahu tidak sempat kembali ke
daratan.
Salah satunya adalah perahu ayah Lautra.
Sejak malam itu, tidak ada kabar lagi.
Tidak ada tubuh yang ditemukan. Tidak
ada perahu yang tersisa. Hanya laut yang kembali tenang keesokan paginya,
seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
Namun bagi Lautra, laut tidak pernah
benar-benar kembali sama.
Bertahun-tahun ia mencoba menjauh dari
pantai. Ia sibuk dengan sekolah, pekerjaan, dan berbagai kesibukan lain,
mencoba hidup seperti orang-orang yang tidak memikirkan laut setiap hari.
Tetapi setiap malam, ketika angin
membawa bau asin dari kejauhan, kenangan itu selalu kembali.
Dan malam ini, untuk pertama kalinya
setelah sekian lama, Lautra kembali berdiri di tepi pantai.
Angin meniup keras rambutnya. Pasir
basah di bawah kakinya terasa dingin. Langit gelap tanpa bintang, hanya
sesekali kilat membelah awan dan memperlihatkan wajah laut yang liar.
Ia menatap laut yang gelap itu lama
sekali.
Di kejauhan, ombak naik tinggi lalu
pecah dengan suara yang menggema seperti dentuman.
Lautra teringat sesuatu yang dulu pernah
dikatakan ayahnya.
“Jangan pernah melawan laut,” kata
ayahnya suatu malam ketika mereka duduk di perahu kecil.
“Kalau kamu melawannya, kamu akan kalah.
Laut selalu lebih besar.”
Saat itu Lautra hanya mengangguk tanpa
benar-benar memahami.
Sekarang ia mengerti.
Laut memang lebih besar daripada
manusia. Lebih luas dari kemarahan, lebih dalam dari kesedihan.
Namun di dalam luasnya itu, laut juga
menyimpan sesuatu yang aneh: kenangan.
Lautra melangkah sedikit lebih dekat ke
air. Ombak menyentuh kakinya, dingin dan kuat.
“Kalau memang kau menyimpan semuanya,”
bisiknya pelan kepada laut,
“maka kau juga menyimpan namanya.”
Angin menjawab dengan desau panjang.
Tentu saja laut tidak benar-benar
menjawab. Ia tidak pernah memberi penjelasan kepada siapa pun.
Namun saat Lautra berdiri di sana,
memandang gelombang yang terus datang tanpa henti, ia tiba-tiba menyadari
sesuatu yang selama ini tidak ia pahami.
Laut tidak pernah benar-benar mengambil
orang.
Ia hanya membawa mereka pergi lebih jauh
dari yang bisa dilihat manusia.
Ombak datang lagi, lebih besar dari
sebelumnya, lalu pecah di pantai dengan suara keras.
Lautra memejamkan mata sejenak.
Ketika ia membukanya kembali, badai
masih berlangsung. Laut masih liar seperti sebelumnya. Tidak ada yang berubah
di dunia luar.
Tetapi di dalam dirinya, sesuatu terasa
sedikit lebih tenang.
Ia akhirnya mengerti bahwa beberapa
kehilangan tidak pernah benar-benar selesai. Tidak ada jawaban yang sempurna,
tidak ada akhir yang rapi.
Namun seperti laut yang terus bergerak
meskipun dihantam badai, manusia juga tetap berjalan meskipun membawa luka.
Lautra memandang laut untuk terakhir
kalinya malam itu.
Di antara gelap dan suara ombak yang
mengguncang pantai, ia merasa seolah laut sedang menyimpan ribuan cerita yang
tidak pernah diceritakan.
Cerita tentang pelaut yang berangkat dan
tidak kembali.
Cerita tentang mimpi yang tenggelam
bersama badai.
Cerita tentang nama-nama yang hanya
diingat oleh angin.
Dan di suatu tempat yang tidak bisa
dilihat oleh mata manusia, mungkin ada satu nama yang masih hidup di dalam
gelombang.
Nama ayahnya.
Nama yang kini menjadi bagian dari laut
itu sendiri.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar