Belajarlah Bersyukur Dalam Hidup
Oleh: Saskia Rahmawati
Namaku Zarahira Ramadhani. Orang-orang biasanya memanggil diriku Rahma, panggilan itu diberikan oleh ibu kepadaku agar aku menjadi anak yang penyayang, baik hati dan mandiri. Tapi sayangnya, semua yang diharapkan ibu berbalik dengan kepribadianku.
Aku cewek yang pemalas, boros, suka menghambur-hamburkan uang, kadang membuang makanan, aku tidak bisa memasak, tidak bisa mencuci baju, mencuci piring, menyapu dll. Karena dirumah aku sangatlah dimanja oleh ayahku, makanya aku menjadi cewek yang manja dan pemalas. Keluargaku juga dikenal dengan kehidupannya yang cukup dan layak, bahkan apapun yang kuinginkan harus dikabulkan jika tidak aku akan marah kepada orang tuaku. Oh betapa manja dan merepotkan sekali diriku.Saat itu, di penghujung kelas 6 SD ibu memberitahu bahwa aku akan
dimasukkan ke pesantren agar aku berubah menjadi lebih baik, bisa mengaji agar
bisa mendekatkan diri kepada Allah dan bisa hidup mandiri. Tapi aku menolak
dengan mentah-mentah aku merasa bahwa ibu ingin mengusir aku dengan cara yang
halus yaitu memasukkan aku kepesantren. Bukankah disana aku harus bisa mandiri?
Aku harus melakukan pekerjaanku sendiri? Harus bangun pagi? Harus bisa membaca
kitab? Harus makan seadanya? Peganganku setiap hari harus Al-quran? Harus solat
berjamaah? Akan ada banyak hukuman? Banyak larangan? Harus bisa inilah itulah
bahkan aku tidak bisa memikirkannya.
Ibu: “ ayolah nak, kau pasti bisa hidup dipesantren, kau akan belajar cara
hidup mandiri”
Rahma : “alasan!!! Ibu ingin membuangku kan? Karena selama ini aku selalu
malas-malasan? Aku selalu menyusahkan ibu, menyusahkan ayah, IBU JAHATTT!!!!”
(Rahma menangis dan memberontak).
Ibu : “nak, dengarkan ibu. Kalau ibu
memang ingin membuangmu kenapa ibu tidak melakukannya saat kau kecil? (rahma
terdiam) kenapa ibu selalu memberikan apa yang kau inginkan? Ibu hanya ingin
kau belajar agama, kau belajar mengaji agar bisa mengirim doa untuk ayah dan
ibu nanti kalau sudah meninggal, ibu
ingin kau belajar mandiri agar kau mengerti nanti saat kau telah menjadi orang
tua kau harus bisa melakukan apapun sendiri. Percayalah!! Ibu melakukan ini
hanya untuk kebaikanmu.”
Dengan berat hari, rahma menyetujui permintaan ibunya untuk masuk pesantren
walaupun dia belum 100% ikhlas. Sebulan kemudian, ayah dan ibu mengantarkan
rahma ke pesantren yang dikenal dengan sebutan penjara suci. Setelah
berpamitan, rahma diantar kekamarnya oleh salah satu pengurus santriwati. Saat
pertama kali rahma melihat kamarnya dia langsung menggerutu karena kamarnya ini
luasnya hanya setengah kamar yang ada dirumahnya bahkan satu kamar disini diisi
10 orang. Bukankah sangat menyiksa, pikir rahma.
Seminggu dipesantren rahma belum terbiasa dengan semuanya mulai dari
makanannya, kegiatannya, teman-temannya dan semua hal yang ada didalamnya.
Bahkan tak jarang rahma tidak pernah makan karena sayur dan lauk yang
dipesantren hanya tahu, tempe, telur dan sayur yang dimasak dengan rasa yang
kurang enak. Namun pada sore itu, rahma melihat temannya yang bernama nafisah
begitu senang memakan makanan yang diberikan oleh pesantren padahal hanya
berupa sayur asem dan telur goreng.
Rahma : “Nafisah, kenapa kau sangat senang memakan sayur dan lauk yang
diberikan pesantren? Padahal rasanya tidak enak.”
Nafisah : kau tahu rahma? Dirumah aku jarang memakan makanan enak seperti
ini, karena uang ibu kadang hanya cukup untuk
membeli beras. Terkadang aku dan adikku sampai berpuasa karena tidak ada
makanan. Kau tahu? Harusnya kau bersyukur rahma karena bisa memiliki kehidupan
yang menyenangkan, kau bisa makan apapun yang kau inginkan.
Rahma tertegun, dia baru sadar bahwa selama hidupnya dia kurang bersyukur
dengan apapun yang dia miliki, padahal sehari-hari dia selalu memakan ayam dan
makanan lezat lainnya. Tapi terkadang dia membuang makanan yang diberikan
ibunya karena bosan makanan-makanan yang diberikan, ternyata banyak orang yang
sehari-hari belum tentu bisa makan. Kini rahma sadar, kenapa ibunya memasukkan
dia kepesantren agar rahma belajar mensyukuri hal-hal kecil dihidupnya yang
belum tentu bisa dirasakan orang lain.
pesan : Banyak orang kurang bersyukur dalam hidupnya dengan
semua yang dia miliki, padahal belum tentu orang lain bisa merasakan apa yang
dimiliki. Jangan melihat yang diatasmu tapi lihatlah yang dibawahmu agar kau
bisa bersyukur dengan apa yang kau miliki dan kau akan tahu masih banyak
orang-orang yang masih berusaha agar memiliki kehidupan sepertimu. Terkadang
hal kecil memang selalu tidak dihiraukan, padahal sesuatu yang besar berasal
dari suatu yang kecil.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar