Senin, 23 Maret 2026

Belajarlah Bersyukur Dalam Hidup

 

Belajarlah Bersyukur Dalam Hidup

Oleh: Saskia Rahmawati



Namaku Zarahira Ramadhani. Orang-orang biasanya memanggil diriku Rahma, panggilan itu diberikan oleh ibu kepadaku agar aku menjadi anak yang penyayang, baik hati dan mandiri. Tapi sayangnya, semua yang diharapkan ibu berbalik dengan kepribadianku.

Aku cewek yang pemalas, boros, suka menghambur-hamburkan uang,  kadang membuang makanan, aku tidak bisa memasak, tidak bisa mencuci baju, mencuci piring, menyapu dll. Karena dirumah aku sangatlah dimanja oleh ayahku, makanya aku menjadi cewek yang manja dan pemalas. Keluargaku juga dikenal dengan kehidupannya yang cukup dan layak, bahkan apapun yang kuinginkan harus dikabulkan jika tidak aku akan marah kepada orang tuaku. Oh betapa manja dan merepotkan sekali diriku.

Saat itu, di penghujung kelas 6 SD ibu memberitahu bahwa aku akan dimasukkan ke pesantren agar aku berubah menjadi lebih baik, bisa mengaji agar bisa mendekatkan diri kepada Allah dan bisa hidup mandiri. Tapi aku menolak dengan mentah-mentah aku merasa bahwa ibu ingin mengusir aku dengan cara yang halus yaitu memasukkan aku kepesantren. Bukankah disana aku harus bisa mandiri? Aku harus melakukan pekerjaanku sendiri? Harus bangun pagi? Harus bisa membaca kitab? Harus makan seadanya? Peganganku setiap hari harus Al-quran? Harus solat berjamaah? Akan ada banyak hukuman? Banyak larangan? Harus bisa inilah itulah bahkan aku tidak bisa memikirkannya.

Ibu: “ ayolah nak, kau pasti bisa hidup dipesantren, kau akan belajar cara hidup mandiri”

Rahma : “alasan!!! Ibu ingin membuangku kan? Karena selama ini aku selalu malas-malasan? Aku selalu menyusahkan ibu, menyusahkan ayah, IBU JAHATTT!!!!” (Rahma menangis dan memberontak).

Ibu : “nak, dengarkan ibu. Kalau  ibu memang ingin membuangmu kenapa ibu tidak melakukannya saat kau kecil? (rahma terdiam) kenapa ibu selalu memberikan apa yang kau inginkan? Ibu hanya ingin kau belajar agama, kau belajar mengaji agar bisa mengirim doa untuk ayah dan ibu nanti  kalau sudah meninggal, ibu ingin kau belajar mandiri agar kau mengerti nanti saat kau telah menjadi orang tua kau harus bisa melakukan apapun sendiri. Percayalah!! Ibu melakukan ini hanya untuk kebaikanmu.”

Dengan berat hari, rahma menyetujui permintaan ibunya untuk masuk pesantren walaupun dia belum 100% ikhlas. Sebulan kemudian, ayah dan ibu mengantarkan rahma ke pesantren yang dikenal dengan sebutan penjara suci. Setelah berpamitan, rahma diantar kekamarnya oleh salah satu pengurus santriwati. Saat pertama kali rahma melihat kamarnya dia langsung menggerutu karena kamarnya ini luasnya hanya setengah kamar yang ada dirumahnya bahkan satu kamar disini diisi 10 orang. Bukankah sangat menyiksa, pikir rahma.

Seminggu dipesantren rahma belum terbiasa dengan semuanya mulai dari makanannya, kegiatannya, teman-temannya dan semua hal yang ada didalamnya. Bahkan tak jarang rahma tidak pernah makan karena sayur dan lauk yang dipesantren hanya tahu, tempe, telur dan sayur yang dimasak dengan rasa yang kurang enak. Namun pada sore itu, rahma melihat temannya yang bernama nafisah begitu senang memakan makanan yang diberikan oleh pesantren padahal hanya berupa sayur asem dan telur goreng.

Rahma : “Nafisah, kenapa kau sangat senang memakan sayur dan lauk yang diberikan pesantren? Padahal rasanya tidak enak.”

Nafisah : kau tahu rahma? Dirumah aku jarang memakan makanan enak seperti ini, karena uang ibu kadang hanya cukup untuk  membeli beras. Terkadang aku dan adikku sampai berpuasa karena tidak ada makanan. Kau tahu? Harusnya kau bersyukur rahma karena bisa memiliki kehidupan yang menyenangkan, kau bisa makan apapun yang kau inginkan.

Rahma tertegun, dia baru sadar bahwa selama hidupnya dia kurang bersyukur dengan apapun yang dia miliki, padahal sehari-hari dia selalu memakan ayam dan makanan lezat lainnya. Tapi terkadang dia membuang makanan yang diberikan ibunya karena bosan makanan-makanan yang diberikan, ternyata banyak orang yang sehari-hari belum tentu bisa makan. Kini rahma sadar, kenapa ibunya memasukkan dia kepesantren agar rahma belajar mensyukuri hal-hal kecil dihidupnya yang belum tentu bisa dirasakan orang lain.

pesan : Banyak orang kurang bersyukur dalam hidupnya dengan semua yang dia miliki, padahal belum tentu orang lain bisa merasakan apa yang dimiliki. Jangan melihat yang diatasmu tapi lihatlah yang dibawahmu agar kau bisa bersyukur dengan apa yang kau miliki dan kau akan tahu masih banyak orang-orang yang masih berusaha agar memiliki kehidupan sepertimu. Terkadang hal kecil memang selalu tidak dihiraukan, padahal sesuatu yang besar berasal dari suatu yang kecil.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar