CERITA YANG TAK
PERNAH SEMPAT DIDENGAR
Oleh : Andivia
Tsabita
Hujan turun sangat deras pagi itu. Langit terlihat gelap seperti menahan sesuatu yang berat. Di jalan yang basah, sebuah motor tergeletak di tengah genangan air. Tidak jauh dari sana, seorang remaja perempuan terbaring tak bergerak.
Orang-orang
mulai berkerumun.
“Cepat panggil
ambulans!” teriak seseorang.
Tubuh gadis itu
basah karena hujan. Helmnya terlepas dan tergeletak beberapa meter dari tempat
ia jatuh.
Namanya Ara.
Anak tunggal
yang selama ini hidup di rumah besar yang terasa sangat sunyi.Tidak ada yang
tahu bahwa sebelum pagi itu terjadi, Ara hanya ingin satu hal
sederhana.Didengar. Beberapa minggu sebelum kejadian itu, kehidupan Ara
berjalan seperti biasa. Rumahnya besar, bersih, dan rapi. Namun hampir setiap
hari rumah itu terasa terlalu sepi.
Ara adalah anak
tunggal. Ia tidak memiliki kakak atau adik. Sejak kecil ia sering bermain
sendiri di rumah.
Kadang ia
menonton televisi sendirian, Kadang ia belajar di kamar sendirian, dan sering
kali ia makan sendirian.
Suatu malam di
meja makan, ara mencoba memulai percakapan.
“Ayah, hari ini
aku—”
Ayahnya
memotong sambil melihat layar ponsel.
“Sebentar ya,
Ayah sedang membalas pesan kantor.”
Ara terdiam.
Ibunya yang
duduk di sebelah hanya berkata singkat.
“Ara sudah
makan?”
“Sudah, Bu.”
Setelah itu
tidak ada lagi percakapan.
Ara kembali ke
kamarnya.
Di meja belajar
ada sebuah piala kecil. Hari itu ia menang lomba menulis di sekolah.Ia
sebenarnya ingin sekali menunjukkannya. Namun akhirnya ia hanya duduk di kursi
dan membuka buku diari miliknya.
Ara menulis dengan
hati yang sedih.
Hari ini aku
menang lomba menulis. Aku ingin sekali menunjukkan piala ini ke Ayah dan Ibu. Semoga
suatu hari mereka sempat melihatnya.
Hari-hari
berlalu seperti itu.
Di sekolah, Ara
terlihat seperti anak yang ceria. Ia punya teman, ia tertawa, dan ia belajar
dengan baik.
Ketika Ara
sedang berkumpul dengan teman-teman nya di taman salah satu temannya bertanya
kepada Ara.
Ara, nanti
orang tuamu datang ke acara pentas seni?”
Ara tersenyum
kecil.
“Mungkin kalau
mereka tidak sibuk.”
Temannya
mengangguk, walaupun Ara tahu kemungkinan itu kecil.
Malam itu Ara
kembali menulis di diarinya.
Kadang aku iri
sama teman-teman.Mereka punya kakak atau adik untuk diajak bicara.Sedangkan aku
anak tunggal yang tidak mempunyai kakak atau pun adik, jadi rumah sering terasa
sangat sepi.
Beberapa hari
kemudian terjadi percakapan yang jarang terjadi di rumah itu.Ara memberanikan
diri berbicara.
“Ayah, boleh
aku tanya sesuatu?”
Ayahnya menoleh
dari sofa.“Ada apa?”
“Kenapa Ayah
dan Ibu selalu sibuk?”
Ibunya sedikit
terkejut.
“Kami bekerja
untuk kamu juga, Ara.” Ucap ibu
Ara menunduk
sebentar.
“Aku tahu.” ia
menarik napas pelan.
“Tapi aku juga
butuh Ayah sama Ibu.”
Ruangan itu
tiba-tiba menjadi sunyi.
Ayahnya
terlihat tidak tahu harus menjawab apa.
Ibunya hanya
diam.
Akhirnya Ara
berdiri dan kembali ke kamarnya. Malam itu ia menulis lebih lama di diarinya.
Hari ini aku
bicara jujur, aku tidak marah, aku hanya ingin ditemani. Kenapa ayah dan ibu
begitu sibuk sampai tidak ada waktu untuk aku? Ara menulis
diarinya dengan penuh sedih dan tak sadar dia meneteskan sesuatu dari matanya
itu.
Beberapa hari
kemudian hujan turun sangat deras sejak pagi. Ara sudah memakai seragam
sekolahnya, pembantu rumah tangga menghampirinya.
“Non ara,
hujannya deras sekali. Diantar sopir saja ya?”
Ara menggeleng.
“Tidak apa-apa,
Bi. Aku naik motor saja.”
Ia memakai helm
lalu keluar dari rumah.
Hujan langsung
membasahi jalan. Ara berkendara pelan, namun pikirannya penuh dengan banyak
hal. Tentang rumah yang sunyi, tentang ayah dan ibunya, dan tentang semua
cerita yang belum sempat ia sampaikan.
Di kejauhan
sebuah truk melaju dari arah berlawanan.
Lampunya
terlihat samar di tengah hujan.
Tiba-tiba truk
itu sedikit oleng.
“Tinnnn!” klakson berbunyi keras.
Ara mencoba
menghindar, namun jalan yang licin membuat motor itu tergelincir.
Benturan keras
terdengar.
Orang-orang di
sekitar langsung berteriak.
“Astagfirullah!”
“Cepat bawa ke
rumah sakit!” banyak orang yang menolong Ara.
Ara segera
dibawa ke rumah sakit.
Beberapa jam
kemudian, ayah dan ibunya datang dengan wajah panik.
“Ara di mana?”
tanya ibunya dengan suara gemetar.
Dokter keluar
dari ruang perawatan.
“Ibu bapak,
maaf kami sudah berusaha semaksimal mungkin.”
Ibunya menutup
mulutnya sambil menangis.
Ayah Ara hanya
berdiri diam.
Hari itu Ara
meninggal dunia.
Anak tunggal
mereka.
Beberapa hari
setelah pemakaman, ibu Ara masuk ke kamar Ara. Semua masih terlihat sama.
Meja belajar, seragam
sekolah, dan sebuah piala kecil yang baru sekarang ia sadari, tangannya gemetar
saat mengambil piala itu, di dalam laci meja ia menemukan sebuah buku kecil
yaitu diari Ara.
Ia membuka
halaman pertama.
Hari ini aku
menang lomba menulis.Aku ingin sekali menunjukkan piala ini ke Ayah dan
Ibu.Semoga suatu hari mereka sempat melihatnya.
Air matanya langsung
jatuh.
Halaman
berikutnya membuat dadanya semakin sesak.
Kadang aku iri
sama teman-teman. Mereka punya kakak atau adik untuk diajak bicara. Sedangkan
aku anak tunggal yang tidak mempunyai kakak atau pun adik, jadi rumah sering
terasa sangat sepi.
Ibunya terus
membaca sampai halaman terakhir.
Hari ini aku
bicara jujur, aku tidak marah,aku hanya ingin ditemani.Kenapa ayah dan ibu
begitu sibuk sampai tidak ada waktu untuk aku?
Ibunya memeluk
buku kecil itu sambil menangis dan merasakan dada yang sangat sesak. Ayah ara memeluk
istrinya dari belakang dengan mata yang basah.
Di luar rumah,
hujan kembali turun. Namun, kali ini mereka tahu satu hal.
Semua cerita ara
sudah berhenti.
Dan semua kata
yang ingin ia sampaikan… kini hanya tersisa dalam halaman-halaman diari kecil
yang datang terlambat.
Cerita ini
mengingatkan kita bahwa perhatian dan waktu bersama keluarga jauh lebih
berharga daripada kesibukan atau pekerjaan. Terkadang seseorang tidak
membutuhkan banyak hal, ia hanya ingin didengar dan ditemani. Karena jika kita
terlalu sibuk hingga mengabaikan orang yang kita sayangi, penyesalan bisa
datang ketika semuanya sudah terlambat.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar