Senin, 23 Maret 2026

Cerita yang Tak Pernah Didengar

 

CERITA YANG TAK PERNAH SEMPAT DIDENGAR

Oleh : Andivia Tsabita

 


Hujan turun sangat deras pagi itu. Langit terlihat gelap seperti menahan sesuatu yang berat. Di jalan yang basah, sebuah motor tergeletak di tengah genangan air. Tidak jauh dari sana, seorang remaja perempuan terbaring tak bergerak.

Orang-orang mulai berkerumun.

“Cepat panggil ambulans!” teriak seseorang.

Tubuh gadis itu basah karena hujan. Helmnya terlepas dan tergeletak beberapa meter dari tempat ia jatuh.

Namanya Ara.

Anak tunggal yang selama ini hidup di rumah besar yang terasa sangat sunyi.Tidak ada yang tahu bahwa sebelum pagi itu terjadi, Ara hanya ingin satu hal sederhana.Didengar. Beberapa minggu sebelum kejadian itu, kehidupan Ara berjalan seperti biasa. Rumahnya besar, bersih, dan rapi. Namun hampir setiap hari rumah itu terasa terlalu sepi.

Ara adalah anak tunggal. Ia tidak memiliki kakak atau adik. Sejak kecil ia sering bermain sendiri di rumah.

Kadang ia menonton televisi sendirian, Kadang ia belajar di kamar sendirian, dan sering kali ia makan sendirian.

Suatu malam di meja makan, ara mencoba memulai percakapan.

“Ayah, hari ini aku—”

Ayahnya memotong sambil melihat layar ponsel.

“Sebentar ya, Ayah sedang membalas pesan kantor.”

Ara terdiam.

Ibunya yang duduk di sebelah hanya berkata singkat.

“Ara sudah makan?”

“Sudah, Bu.”

Setelah itu tidak ada lagi percakapan.

Ara kembali ke kamarnya.

Di meja belajar ada sebuah piala kecil. Hari itu ia menang lomba menulis di sekolah.Ia sebenarnya ingin sekali menunjukkannya. Namun akhirnya ia hanya duduk di kursi dan membuka buku diari miliknya.

Ara menulis dengan hati yang sedih.

Hari ini aku menang lomba menulis. Aku ingin sekali menunjukkan piala ini ke Ayah dan Ibu. Semoga suatu hari mereka sempat melihatnya.

Hari-hari berlalu seperti itu.

Di sekolah, Ara terlihat seperti anak yang ceria. Ia punya teman, ia tertawa, dan ia belajar dengan baik.

Ketika Ara sedang berkumpul dengan teman-teman nya di taman salah satu temannya bertanya kepada Ara.

Ara, nanti orang tuamu datang ke acara pentas seni?”

Ara tersenyum kecil.

“Mungkin kalau mereka tidak sibuk.”

Temannya mengangguk, walaupun Ara tahu kemungkinan itu kecil.

Malam itu Ara kembali menulis di diarinya.

Kadang aku iri sama teman-teman.Mereka punya kakak atau adik untuk diajak bicara.Sedangkan aku anak tunggal yang tidak mempunyai kakak atau pun adik, jadi rumah sering terasa sangat sepi.

Beberapa hari kemudian terjadi percakapan yang jarang terjadi di rumah itu.Ara memberanikan diri berbicara.

“Ayah, boleh aku tanya sesuatu?”

Ayahnya menoleh dari sofa.“Ada apa?”

“Kenapa Ayah dan Ibu selalu sibuk?”

Ibunya sedikit terkejut.

“Kami bekerja untuk kamu juga, Ara.” Ucap ibu

Ara menunduk sebentar.

“Aku tahu.” ia menarik napas pelan.

“Tapi aku juga butuh Ayah sama Ibu.”

Ruangan itu tiba-tiba menjadi sunyi.

Ayahnya terlihat tidak tahu harus menjawab apa.

Ibunya hanya diam.

Akhirnya Ara berdiri dan kembali ke kamarnya. Malam itu ia menulis lebih lama di diarinya.

Hari ini aku bicara jujur, aku tidak marah, aku hanya ingin ditemani. Kenapa ayah dan ibu begitu sibuk sampai tidak ada waktu untuk aku? Ara menulis diarinya dengan penuh sedih dan tak sadar dia meneteskan sesuatu dari matanya itu.

Beberapa hari kemudian hujan turun sangat deras sejak pagi. Ara sudah memakai seragam sekolahnya, pembantu rumah tangga menghampirinya.

“Non ara, hujannya deras sekali. Diantar sopir saja ya?”

Ara menggeleng.

“Tidak apa-apa, Bi. Aku naik motor saja.”

Ia memakai helm lalu keluar dari rumah.

Hujan langsung membasahi jalan. Ara berkendara pelan, namun pikirannya penuh dengan banyak hal. Tentang rumah yang sunyi, tentang ayah dan ibunya, dan tentang semua cerita yang belum sempat ia sampaikan.

Di kejauhan sebuah truk melaju dari arah berlawanan.

Lampunya terlihat samar di tengah hujan.

Tiba-tiba truk itu sedikit oleng.

“Tinnnn!”  klakson berbunyi keras.

Ara mencoba menghindar, namun jalan yang licin membuat motor itu tergelincir.

Benturan keras terdengar.

Orang-orang di sekitar langsung berteriak.

“Astagfirullah!”

“Cepat bawa ke rumah sakit!” banyak orang yang menolong Ara.

Ara segera dibawa ke rumah sakit.

Beberapa jam kemudian, ayah dan ibunya datang dengan wajah panik.

“Ara di mana?” tanya ibunya dengan suara gemetar.

Dokter keluar dari ruang perawatan.

“Ibu bapak, maaf kami sudah berusaha semaksimal mungkin.”

Ibunya menutup mulutnya sambil menangis.

Ayah Ara hanya berdiri diam.

Hari itu Ara meninggal dunia.

Anak tunggal mereka.

 

Beberapa hari setelah pemakaman, ibu Ara masuk ke kamar Ara. Semua masih terlihat sama.

Meja belajar, seragam sekolah, dan sebuah piala kecil yang baru sekarang ia sadari, tangannya gemetar saat mengambil piala itu, di dalam laci meja ia menemukan sebuah buku kecil yaitu diari Ara.

Ia membuka halaman pertama.

Hari ini aku menang lomba menulis.Aku ingin sekali menunjukkan piala ini ke Ayah dan Ibu.Semoga suatu hari mereka sempat melihatnya.

Air matanya langsung jatuh.

Halaman berikutnya membuat dadanya semakin sesak.

Kadang aku iri sama teman-teman. Mereka punya kakak atau adik untuk diajak bicara. Sedangkan aku anak tunggal yang tidak mempunyai kakak atau pun adik, jadi rumah sering terasa sangat sepi.

Ibunya terus membaca sampai halaman terakhir.

Hari ini aku bicara jujur, aku tidak marah,aku hanya ingin ditemani.Kenapa ayah dan ibu begitu sibuk sampai tidak ada waktu untuk aku?

Ibunya memeluk buku kecil itu sambil menangis dan merasakan dada yang sangat sesak. Ayah ara memeluk istrinya dari belakang dengan mata yang basah.

Di luar rumah, hujan kembali turun. Namun, kali ini mereka tahu satu hal.

Semua cerita ara sudah berhenti.

Dan semua kata yang ingin ia sampaikan… kini hanya tersisa dalam halaman-halaman diari kecil yang datang terlambat.

 

 

Cerita ini mengingatkan kita bahwa perhatian dan waktu bersama keluarga jauh lebih berharga daripada kesibukan atau pekerjaan. Terkadang seseorang tidak membutuhkan banyak hal, ia hanya ingin didengar dan ditemani. Karena jika kita terlalu sibuk hingga mengabaikan orang yang kita sayangi, penyesalan bisa datang ketika semuanya sudah terlambat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar