Senin, 23 Maret 2026

Zahra dan Hafalannya

 

ZAHRA DAN HAFALANNYA

Oleh : Faizatun Nazila

 


Jawa Tengah, tepatnya di Desa Benda, terdapat pondok pesantren yang di kelilingi sawah-sawah hijau dan udara yang begitu sejuk. Pondok Pesantren tersebut adalah Pondok Pesantren Al Hikmah 2. Di tengah kesejukan udaranya dan keasrian lingkungannya, terdapat satu kisah menarik yang datang dari seorang anak berusia 16 tahun. Ia adalah Fatimah Az-Zahra

 

Sudah 5 tahun yang lalu, Zahra Muqim dipondok pesantren. saat ini ia merupakan santri kelas 4 Muallimat. Ia merupakan seorang anak yang sangat amat ceria. Selain itu, ia juga aktif di berbagai kegiatan, baik kegiatan pondok maupun sekolah. Bahkan, Ia pernah mendapatkan nominasi penghargaan sebagai santri teladan se-pondok.

 

Pada suatu hari, langit masih diselimuti gelap. Udara dingin pun memaksa masuk melalui celah jendela asrama, membuat sebagian santri semakin nyaman di alam mimpi nya. Cuaca seolah mendukung mereka untuk kembali terlelap di dalam selimut masing-masing. Namun, hal itu tidak berlaku untuk Zahra, karena ia sudah terjaga sebelum kentongan berdentang.

 

Ia duduk bersila di atas kasur tipisnya, sambil memandangi kitab kecil yang terletak di Atas bantal kapuknya. Sampul Coklat kitab tersebut sudah mulai kusut. Lapisan terluarnya pun sedikit terkelupas. Meskipun begitu, kitab kusut itu lah yang telah menemaninya 3 tahun terakhir.

 

Perlahan, Zahra meraih kitab itu. Ia pandangi dan menggenggam sampul nya dengan tangan yang sedikit bergetar. Bukan karna dingin, tapi karna takut. Takut jika hafalannya hilang lagi, seperti hafalan nadzom Alfiyah nya setahun yang lalu. Memang, sejak dua minggu terakhir, hafalan Zahra bagaikan pasir di atas meja yang terkena angin. Nadzom–nadzom yang dulu telah ia hafal, kini dengan mudah nya sering tersandat. Bahkan beberapa bait terasa asing. Padahal sebelum nya, ia juga menghafal Nadzom Imrithi dengan mati-matian.

 

“Zahra kuat, ya, memorinya,”, “Enak, ya, kamu cepat menghafalnya,”. Begitulah pujian dari teman-temannya yang sering ia dengar.

 

Zahra bangkit, mengambil kerudung instan yang tergantung didepan lemari nya. Lalu, ia berjalan menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Dinginnya udara pada saat itu membuat air wudhu yang membasahi wajahnya terasa begitu menusuk dan dingin, namun justru membuat pikirannya menjadi jauh lebih tenang.

 

Ia berdiri di depan cermin, menatap wajah nya yang begitu lelah, “kenapa aku jadi susah menghafal gini, ya?” gumam nya.

 

“Apakah aku telah memakan makanan yang tidak halal” Pikir Zahra dengan raut wajah sedih karena akhir-akhir ini Ia sangat susah untuk menghafal.

 

Para santri mulai berdatangan memenuhi serambi masjid An Nur. Suara sandal yang beradu dengan tanah sangat menghiasi pelataran masjid pagi itu.

 

Setelah salat berjamaah selesai, para santri kembali ke asrama masing masing. Sebagian santri melakukan aktivitas yang berbeda-beda, seperti membaca Al Quran, halaqoh, dan tadarus kitab. Terkecuali Zahra, ia justru memilih duduk menyendiri di serambi putri. Ia membuka kitab Alfiyah nya yang semalam ia coba hafalkan. Bait pertama ia lantunkan dengan lancar, begitupun dengan bait ke-2, ke-3, hingga bait ke-500, ia mulai berhenti. Tentu saja karna lupa. Ia mengulang lagi dari bait 400,  namun masih tetap salah, hingga kali ketiga ia mulai frustasi.

 

“hmm… astaghfirullah,” gumamnya resah.

 

Akhirnya, ia memutuskan untuk segera berangkat sekolah. Namun saat di kelas, Zahra hampir tidak fokus dengan apa yang disampaikan oleh gurunya. Di bukunya, Ia menggoreskan pena tanpa makna. Anindya teman sebangku nya yang menyadari keanehan yang sedang dialami oleh Zahra, berbisik, “Kamu kenapa, Zah?”. Zahra pun menjawab seadanya, “engga apa apa, kok,”.

 

Singkat cerita, Hari Ahad pun tiba, dimana hari semua anak kelas 4 muallimat menyetorkan hafalannya kepada sang guru, Satu persatu siswi mulai maju, hingga tibalah giliran Zahra, Saat gilirannya maju, badannya terasa sangat dingin. Tangannya pun gemetar dan berkeringat.

 

“Silahkan, Zahra”, kata Guru wali kelasnya. Zahra pun mulai melantunkan bait-bait yang telah di hafalnya semalam. Sayang beribu sayang, hafalannya masih sama seperti semalam. Ia tidak dapat melantunkan seluruh baitnya dengan lancar, hanya 400 bait saja yang dapat ia setorkan. Ustadzah pengampu menyuruhnya untuk mengulanginya sekali lagi. Tetapi, hasilnya tidak lebih baik. Alhasil, ia pun disuruh untuk mengulang hafalannya lagi dan menyetorkannya minggu depan. Dengan pasrah, Zahra mengangguk mengiyakan.

 

Keesokan harinya, Zahra memberanikan diri untuk menemui Guru wali kelasnya yang mengampu hafalannya kemarin.

 

“Ustadzah, saya kok ngerasa susah buat ngehafal, ya?” kata Zahra mengawali pembicaraan.

 

“tapi kamu ga nyerah, kan?”

 

“engga, Ustadzah,” jawab Zahra lesu.

 

“gapapa, Zahra. Walaupun kamu ngerasa susah, tapi kalo kamu masih mau berusaha, maka masih ada harapan buat kamu kedepannya!” kata Ustadzahnya menasehati dengan penuh semangat. Sejak saat itu, dengan senyum dan dukungan dari Ustazdah,  Zahra menjadi lebih bersemangat. Ia mulai menyusun jadwal baru agar waktu menghafal dan belajar nya lebih tertata.

 

Waktu Kegiatan

03.00 – 03.20          Bangun & persiapan

03.20 – 03.50          Tahajud

03.50 – 04.30          Menghafal

04.30 – 05.00          Subuh & dzikir

05.00 – 05.45          Menghafal lagi

07.00 – 15.00          Sekolah

16.00 – 17.00          Murajaah

18.30 – 19.30          Murajaah malam

21.00  Istirahat

 

Ia menempel jadwal tersebut di pintu lemarinya, bertekad keras agar perubahan itu menjadi nyata. Alhamdulillah ketika ia mulai memanfaatkan jadwal itu dengan benar, proses menghafalnya jadi jauh lebih mudah. Dengan ketekunan dan kesabaran Zahra Akhirnya ia bisa Menghatamkan 1002 bait alfiyah dalam waktu 2 tahun, Ya… 2 tahun merupakan waku yang cukup cepat bagi orang yang menghafal 1002 bait.

 

“Happy graduation and happy khotmil 1002 baitnya ka Zahra “, ya begitulah kurang lebih ucapan para adik kelas, dihari kelulusan nya. Hari ini merupakan Hari yang sangat ditunggu-tunggu oleh Zahra ia bisa melewati semua manis pahitnya kehidupan dipondok selama 7 tahun, 7 tahun bukanlah waktu yang singkat bagi Zahra, karena ia harus berjuang melawan beribu-ribu cobaan ketika menghafal 1002 bait.

 

Kini, Zahra mengerti bahwa menghafalan bukanlah hanya sekedar melafazkan bait per baitnya, Namun Istiqomah lah yang menjadi kunci utama dalam segalanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar