ZAHRA DAN
HAFALANNYA
Oleh :
Faizatun Nazila
Jawa Tengah, tepatnya di Desa Benda, terdapat pondok pesantren yang di kelilingi sawah-sawah hijau dan udara yang begitu sejuk. Pondok Pesantren tersebut adalah Pondok Pesantren Al Hikmah 2. Di tengah kesejukan udaranya dan keasrian lingkungannya, terdapat satu kisah menarik yang datang dari seorang anak berusia 16 tahun. Ia adalah Fatimah Az-Zahra
Sudah 5
tahun yang lalu, Zahra Muqim dipondok pesantren. saat ini ia merupakan santri
kelas 4 Muallimat. Ia merupakan seorang anak yang sangat amat ceria. Selain
itu, ia juga aktif di berbagai kegiatan, baik kegiatan pondok maupun sekolah.
Bahkan, Ia pernah mendapatkan nominasi penghargaan sebagai santri teladan
se-pondok.
Pada
suatu hari, langit masih diselimuti gelap. Udara dingin pun memaksa masuk
melalui celah jendela asrama, membuat sebagian santri semakin nyaman di alam
mimpi nya. Cuaca seolah mendukung mereka untuk kembali terlelap di dalam
selimut masing-masing. Namun, hal itu tidak berlaku untuk Zahra, karena ia
sudah terjaga sebelum kentongan berdentang.
Ia duduk
bersila di atas kasur tipisnya, sambil memandangi kitab kecil yang terletak di
Atas bantal kapuknya. Sampul Coklat kitab tersebut sudah mulai kusut. Lapisan
terluarnya pun sedikit terkelupas. Meskipun begitu, kitab kusut itu lah yang
telah menemaninya 3 tahun terakhir.
Perlahan,
Zahra meraih kitab itu. Ia pandangi dan menggenggam sampul nya dengan tangan
yang sedikit bergetar. Bukan karna dingin, tapi karna takut. Takut jika
hafalannya hilang lagi, seperti hafalan nadzom Alfiyah nya setahun yang lalu.
Memang, sejak dua minggu terakhir, hafalan Zahra bagaikan pasir di atas meja
yang terkena angin. Nadzom–nadzom yang dulu telah ia hafal, kini dengan mudah
nya sering tersandat. Bahkan beberapa bait terasa asing. Padahal sebelum nya,
ia juga menghafal Nadzom Imrithi dengan mati-matian.
“Zahra
kuat, ya, memorinya,”, “Enak, ya, kamu cepat menghafalnya,”. Begitulah pujian
dari teman-temannya yang sering ia dengar.
Zahra
bangkit, mengambil kerudung instan yang tergantung didepan lemari nya. Lalu, ia
berjalan menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Dinginnya udara pada
saat itu membuat air wudhu yang membasahi wajahnya terasa begitu menusuk dan
dingin, namun justru membuat pikirannya menjadi jauh lebih tenang.
Ia
berdiri di depan cermin, menatap wajah nya yang begitu lelah, “kenapa aku jadi
susah menghafal gini, ya?” gumam nya.
“Apakah
aku telah memakan makanan yang tidak halal” Pikir Zahra dengan raut wajah sedih
karena akhir-akhir ini Ia sangat susah untuk menghafal.
Para
santri mulai berdatangan memenuhi serambi masjid An Nur. Suara sandal yang
beradu dengan tanah sangat menghiasi pelataran masjid pagi itu.
Setelah
salat berjamaah selesai, para santri kembali ke asrama masing masing. Sebagian
santri melakukan aktivitas yang berbeda-beda, seperti membaca Al Quran,
halaqoh, dan tadarus kitab. Terkecuali Zahra, ia justru memilih duduk
menyendiri di serambi putri. Ia membuka kitab Alfiyah nya yang semalam ia coba
hafalkan. Bait pertama ia lantunkan dengan lancar, begitupun dengan bait ke-2,
ke-3, hingga bait ke-500, ia mulai berhenti. Tentu saja karna lupa. Ia
mengulang lagi dari bait 400, namun
masih tetap salah, hingga kali ketiga ia mulai frustasi.
“hmm…
astaghfirullah,” gumamnya resah.
Akhirnya,
ia memutuskan untuk segera berangkat sekolah. Namun saat di kelas, Zahra hampir
tidak fokus dengan apa yang disampaikan oleh gurunya. Di bukunya, Ia
menggoreskan pena tanpa makna. Anindya teman sebangku nya yang menyadari
keanehan yang sedang dialami oleh Zahra, berbisik, “Kamu kenapa, Zah?”. Zahra
pun menjawab seadanya, “engga apa apa, kok,”.
Singkat
cerita, Hari Ahad pun tiba, dimana hari semua anak kelas 4 muallimat
menyetorkan hafalannya kepada sang guru, Satu persatu siswi mulai maju, hingga
tibalah giliran Zahra, Saat gilirannya maju, badannya terasa sangat dingin.
Tangannya pun gemetar dan berkeringat.
“Silahkan,
Zahra”, kata Guru wali kelasnya. Zahra pun mulai melantunkan bait-bait yang
telah di hafalnya semalam. Sayang beribu sayang, hafalannya masih sama seperti
semalam. Ia tidak dapat melantunkan seluruh baitnya dengan lancar, hanya 400
bait saja yang dapat ia setorkan. Ustadzah pengampu menyuruhnya untuk
mengulanginya sekali lagi. Tetapi, hasilnya tidak lebih baik. Alhasil, ia pun
disuruh untuk mengulang hafalannya lagi dan menyetorkannya minggu depan. Dengan
pasrah, Zahra mengangguk mengiyakan.
Keesokan
harinya, Zahra memberanikan diri untuk menemui Guru wali kelasnya yang mengampu
hafalannya kemarin.
“Ustadzah,
saya kok ngerasa susah buat ngehafal, ya?” kata Zahra mengawali pembicaraan.
“tapi
kamu ga nyerah, kan?”
“engga,
Ustadzah,” jawab Zahra lesu.
“gapapa,
Zahra. Walaupun kamu ngerasa susah, tapi kalo kamu masih mau berusaha, maka
masih ada harapan buat kamu kedepannya!” kata Ustadzahnya menasehati dengan
penuh semangat. Sejak saat itu, dengan senyum dan dukungan dari Ustazdah, Zahra menjadi lebih bersemangat. Ia mulai
menyusun jadwal baru agar waktu menghafal dan belajar nya lebih tertata.
Waktu Kegiatan
03.00 – 03.20 Bangun & persiapan
03.20 – 03.50 Tahajud
03.50 – 04.30 Menghafal
04.30 – 05.00 Subuh & dzikir
05.00 – 05.45 Menghafal lagi
07.00 – 15.00 Sekolah
16.00 – 17.00 Murajaah
18.30 – 19.30 Murajaah malam
21.00 Istirahat
Ia
menempel jadwal tersebut di pintu lemarinya, bertekad keras agar perubahan itu
menjadi nyata. Alhamdulillah ketika ia mulai memanfaatkan jadwal itu dengan
benar, proses menghafalnya jadi jauh lebih mudah. Dengan ketekunan dan
kesabaran Zahra Akhirnya ia bisa Menghatamkan 1002 bait alfiyah dalam waktu 2
tahun, Ya… 2 tahun merupakan waku yang cukup cepat bagi orang yang menghafal
1002 bait.
“Happy
graduation and happy khotmil 1002 baitnya ka Zahra “, ya begitulah kurang lebih
ucapan para adik kelas, dihari kelulusan nya. Hari ini merupakan Hari yang
sangat ditunggu-tunggu oleh Zahra ia bisa melewati semua manis pahitnya
kehidupan dipondok selama 7 tahun, 7 tahun bukanlah waktu yang singkat bagi
Zahra, karena ia harus berjuang melawan beribu-ribu cobaan ketika menghafal
1002 bait.
Kini,
Zahra mengerti bahwa menghafalan bukanlah hanya sekedar melafazkan bait per
baitnya, Namun Istiqomah lah yang menjadi kunci utama dalam segalanya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar