Hangat Di Meja Makan
Oleh: Hanisti Ayu Rahmalia
Hujan turun deras sore itu, suara rintiknya mengetuk ngetuk atap rumah kecil milik rahma. Di dalam rumah, aroma sayur sop dan ikan goreng memenuhi dapur, ibu sedang menyiapkan makan malam , sementara ayah baru saja pulang dari bekerja dengan jaket yang sedikit basah oleh hujan.
“Ayah pulang!” teriak lia dari ruang tamu
Lia adalah anak sulung dikeluarga itu, ia segera berlari
menghampiri ayahnya sambal membawa handuk kecil.
“Ini yah, biar tidak masuk
angin” katanya sambil tersenyum
Ayah tertawa kecil, “terimakasih lia, wah rumah kita selalu terasa
hangat ya kalau pulang”
Di sudut ruangan adiknya yang bernama rafi sedang duduk sambil
menggambar dibuku tulisnya, ia terlihat serius seolah sedang membuat karya
besar.
“Apa yang sedang kamu gambar fi?” tanya ayah sambal duduk di
sebelahnya.
Rafi memperlihatkan gambarnya dengan bangga, dikertas itu terlihat
gambar rumah kecil dengan empat orang berdiri didepannya.
“Ini kita yah, ini ayah, ibu, kak lia, dan aku.”
Ayah memperhatikan gambar itu dengan mata yang lembut, rumah yang digambar
rafi memang sederhana, tapi terlihat penuh warna dan senyum.
“Bagus sekali” kata ayah, “tapi kenapa rumahnya kecil?”
Rafi brpikir sejenak sebelum menjawab “karena walaupun kecil kalua
kita di dalamnya, rumahnya tetap terasa besar.”
Ayah tersenyum mendengar jawaban itu.
Tak lama kemudian ibu memanggil dari dapur, “ayo semuanya, makan
malam sudah siap!”
Mereka berkumpul di meja makan kayu yang sudah sedikit usang, meja
itu sudah menemani keluargaa mereka selama bertahun tahun. Banyak cerita, tawa,
kadang juga tangis yang terjadi disana.
Saat mereka mulai makan, ibu memperhatikan wajah ayah yang terlihat
Lelah.
“Hari ini kerjaan banyak ya?” tanya ibu.
Ayah mengangguk pelan, “lumayan, tapi begitu sampai rumah dan
melihat kalian, capeknya langsung berkurang.”
Dina tersenyum, “aku hari ini dapat nilai bagus di sekolah”
“Wah, hebat!” kata ibu bangga
Rafi tidak mau kalah, “aku juga dapat bintang dari guru karena
gambarku.”
Mendengar itu semua orang tertawa
Makan malam berlangsung sederhana, hanya dengan beberapa lauk
rumahan, namun suasana di meja makan terasa penuh kebahagiaan, mereka saling
bercerita tentang hari masing masing.
Di tengah percakapan, listrik tiba tiba padam
“Lampunya mati!” teriak rafi dengan panik
Ibu segera mengambil lilin di lemari dan menyalakannya, cahaya
kecil itu membuat ruangan terlihat redup, tetapi justru terasa lebih hangat.
Mereka melanjutkan makan malam sambil tertawa melihat bayangan
mereka di dinding yang bergerak gerak karena cahaya lilin.
“Seperti sedang berkemah ya” kata lia
Ayah mengangguk, “kadang hal sederhana seperti ini justru jadi
kenangan yang paling diingat”
Hujan diluar masih turun, tetapi didalam rumah kecil itu justru
terasa hangat .
Setelah selesai makan, mereka duduk Bersama di ruang tamu, rafi
membawa gambarnya lagi dan menempelkannya di dinding ruang tamu.
“Biar semua orang tahu kalua ini rumah kita” katanya
Ayah memandang gambar itu sangat lama, rumah mereka memang tidak
besar, perabotannya juga tidak ada yang mewah, tetapi dalam rumah itu ada tawa,
perhatian, kasih sayang, dan rasa saling menjaga satu sama lain dan ayah tau
satu hal yang pasti, “rumah yang penuh cinta dan kasih sayang selalu terasa
lebih luas daripada rumah yang megah sekalipun.”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar