PAYUNG BIRU
Oleh: Dimas Muhammad Asysyifa
Kala hujan sore itu, mengguyur sebuah kota dengan ganasnya. Langit yang biasanya cerah berwarna biru, kian kini tertutup awan hitam pekat, seolah ikut merasakan kesedihan yang menggelayuti hati seorang bocah berusia 12 tahun itu. Dengan tubuh kecilnya yang berbalut pakaian lusuh dan basah kuyup, ia berdiri dipinggir jalan yang ramai, menari - nari di bawah derasnya hujan. Namun, ada yang berbeda kali ini, ia menggenggam sebuah payung biru kusam, bercorak cipratan lumpur, dan penuh dengan lubang di beberapa bagian.
Di bawah payung itu, ia melindungi tumpukan tisu dagangannya agar tak lebur terkena cipratan air. Ia menari - nari di antara genangan, mencoba memanggil para pengendara dengan suara parau yang nyaris tenggelam oleh deru badai."Tisu, pak? Tisu,
bu? Beli 2 gratis 1 nih!" serunya sambil menahan dingin yang menusuk
kulit. Setiap orang yang lewat, sibuk dengan urusannya masing - masing, tak ada
satupun yang menoleh kearahnya. Mereka buta, mereka tuli, seolah mereka tak peduli
dengan keberadaan seorang bocah yatim piatu yang berjuang di bawah derasnya air
hujan.
Sejak kecil, ia tak
pernah merasakan yang namanya kasih sayang. Ia sudah terbiasa hidup sendiri
tanpa adanya kehangatan dari orang tuanya, yang mukanya pun belum pernah ia
lihat. Ya, cukup ironis, namun itulah kenyataannya. Payung biru itu adalah satu
- satunya barang berharga yang ia miliki, sebuah barang yang menjadi saksi bisu
atas perjuangannya selama ini. Baginya, payung biru itu adalah sebuah simbol
"pelukan" yang tak pernah ia dapatkan dari kedua orang tuanya. Saat
berada dibawah payung itu, ia merasa seolah - olah ada yang melindungi dirinya
dari kejamnya dunia.
Dibawah gemerciknya air
hujan dan hiruk pikuknya kota, ia berjalan menyusuri trotoar, demi mencari
setitik kehangatan. Tibalah di depan sebuah toko, ia melihat seorang ayah
sedang memeluk anaknya dengan erat dibawah sebuah payung yang besar. Mereka
tertawa, mereka berbagi cerita, dan mereka saling berbagi kehangatan. Ia pun
terpaku, payung birunya kini miring, tak mampu lagi menahan derasnya air hujan.
Ia menatap sepasang ayah dan anak itu sambil berkaca - kaca. "Apa itu yang
namanya kasih sayang?" bisiknya lirih.
Keinginannya untuk
merasakan kasih sayang begitu besar, hingga ia pun duduk termenung sambil
membayangkan betapa bahagianya ketika ia bisa duduk di sebuah rumah kecil bersama
kedua orang tuanya, sambil bercanda ria. Namun disela itu, terlihat seorang
wanita paruh baya yang sedang menunggu gemuruh hujan reda. Dengan lugu, ia
menyodorkan payung birunya yang lusuh ke arah wanita itu. "Ibu mau pakai
payung saya? Supaya ibu bisa pulang dan tidak kehujanan". Katanya dengan
tulus. Ia berharap wanita itu akan tersenyum dan mengusap kepalanya dengan
penuh kehangatan. "Jangan mendekat! Mau mencopet ya?!". Teriakan dari
wanita itu mengundang perhatian orang - orang sekitar. Ia pun panik, dan segera
lari menjauh. Ia berlari sekuat tenaga, air mata mengucur membasahi pipinya,
berpadu dengan derasnya air hujan.
Saat ia mencoba
menyeberang jalan, angin kencang tiba - tiba menghantam payung birunya hingga
terlepas dari genggaman. Ia mencoba meraih payung itu di tengah jalan, tanpa
memperhatikan keadaan sekitar. Baginya, jika payung itu hilang, maka hilanglah satu
- satunya "teman" yang ia miliki.
Tepat saat jemarinya
menyentuh gagang payung itu, sebuah truck besar dengan gagah melaju kencang
kearahnya. Suara decitan rem yang memekakkan telinga terdengar, disusul oleh
dentuman keras. Terlihat sebuah tubuh kecil berbalut pakaian lusuh yang
terpental ke pinggir jalan. Dunianya seketika menjadi gelap gulita. Di sisa
kesadarannya, ia melihat payung birunya terbang tinggi tertiup angin, menjauh darinya,
hancur tercabik - cabik oleh badai. Tidak ada yang datang memeluknya, tidak ada
tangan hangat yang mengusap keningnya, tidak ada pula yang peduli akan
kemalangannya.
Pada akhirnya, ia
menghembuskan nafas terakhirnya dia atas aspal yang dingin, sendirian tanpa
tahu rasanya disayang dan dicintai. Hujan terus turun, seolah ingin menghapus
jejak keberadaan seorang bocah penjual tisu, yang hanya ingin mencari sedikit
kasih sayang dibawah payung birunya.
Keesokan paginya, langit
kembali membiru seolah tak pernah terjadi badai yang hebat. Di pinggir jalan
beraspal yang kini kering, hanya tersisa beberapa bungkus tisu yang hancur
menjadi bubur kertas, berserakan tak bermakna. Tak ada karangan bunga, tak ada
tangis orang yang melayat. Orang - orang tetap berlalu lalang, seolah tak
terjadi apa - apa, melintasi titik dimana sebuah nyawa baru saja tiada.
Jauh di sebuah gang
sempit yang kumuh, sebuah sobekan kain kecil dari sebuah payung yang berwarna
biru, tersangkut di sebuah kawat berduri. Kain itu berkibar lemah ditiup angin,
menjadi satu - satunya saksi bahwa pernah ada seorang bocah yang mencari sebuah
kasih sayang dibawah payung biru lusuhnya. Kini, anak itu tak lagi kedinginan.
Ia telah pergi ke sebuah tempat yang hangat, dimana hujan tak lagi menusuk
kulit, dan ditemukanya kasih sayang abadi yang selama ini ia cari.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar