Kamis, 26 Maret 2026

Rindu Yang Tak Tersampaikan

 

Rindu Yang Tak Tersampaikan

Oleh: zunita afifah

 


Pagi itu berjalan seperti biasa. Matahari baru naik perlahan, dan suara kendaraan mulai ramai di jalan depan kos. Aisyah duduk di tepi tempat tidurnya sambil menatap layar ponsel. Tidak ada pesan baru. Ia menghela napas pelan, lalu berdiri dan bersiap pergi ke kampus.

Di depan teman-temannya, Aisyah terlihat sama seperti biasanya. Ia tertawa saat temannya bercerita, ikut berdiskusi di kelas, bahkan sesekali bercanda. Tidak ada yang tahu bahwa di balik wajah yang tampak tenang itu, ada perasaan yang sering datang diam-diam.

Rindu.

Rindu yang tidak selalu bisa ia ceritakan kepada siapa pun.

Saat dosen menjelaskan materi di kelas, pikirannya kadang melayang jauh. Ia teringat rumahnya yang sederhana, suara ibunya yang memanggil dari dapur, dan ayahnya yang sering pulang dari kebun menjelang sore. Hal-hal kecil yang dulu terasa biasa saja, sekarang justru terasa sangat berharga.

Siang hari, setelah kelas selesai, Aisyah berjalan pulang menuju kos. Langkahnya pelan. Di sepanjang jalan, ia melihat banyak orang sibuk dengan urusan masing-masing. Ada yang tertawa bersama temannya, ada yang berbicara di telepon, ada juga yang berjalan sendirian seperti dirinya.

Hidup di perantauan mengajarkan banyak hal. Tentang mandiri, tentang mengatur waktu, tentang bertanggung jawab atas diri sendiri. Semua orang bilang itu bagian dari proses menjadi dewasa.

Aisyah tahu itu benar.

Tapi menjadi dewasa ternyata tidak selalu mudah.

Malam hari adalah waktu yang paling sunyi. Setelah semua tugas selesai dan teman-teman mulai kembali ke kamar masing-masing, suasana menjadi lebih tenang. Kadang hanya terdengar suara kipas angin yang berputar pelan.

Di saat seperti itu, rasa rindu sering datang tanpa diundang.

Aisyah membuka galeri ponselnya. Ada banyak foto keluarga di sana. Foto saat berkumpul di ruang tamu, foto saat makan bersama, dan foto sederhana di depan rumah. Ia tersenyum kecil saat melihatnya.

“Di rumah sekarang lagi apa ya?” gumamnya pelan.

Ia membayangkan ibunya yang mungkin sedang menyiapkan makan malam, dan ayahnya yang mungkin baru saja pulang dari kebun. Pikiran itu membuat hatinya terasa hangat, sekaligus sedikit perih.

Terkadang Aisyah ingin sekali pulang. Duduk di ruang tamu, mendengar cerita ayahnya, atau sekadar membantu ibunya di dapur. Hal-hal sederhana yang dulu sering ia anggap biasa.

Sekarang semuanya terasa berbeda.

Namun ia tahu, perjalanan yang sedang ia jalani ini juga penting. Ia datang jauh-jauh untuk belajar, untuk menuntut ilmu, dan untuk membanggakan orang tuanya suatu hari nanti.

Kadang ia teringat pesan ibunya sebelum berangkat merantau.

“Yang sabar ya, Nak. Belajar yang rajin. Rumah selalu menunggu kamu pulang.”

Kalimat itu sering terngiang di kepalanya.

Malam semakin larut. Aisyah akhirnya menutup galeri ponselnya dan merebahkan diri di tempat tidur. Ia menatap langit-langit kamar kos yang sederhana. Tidak ada yang istimewa, tapi di tempat itulah ia sedang belajar tentang kehidupan.

Ia belajar bahwa rindu bukanlah sesuatu yang harus dihindari. Justru rindu mengingatkannya bahwa ada rumah yang selalu menunggu, ada keluarga yang selalu mendoakan dari jauh.

Dan mungkin itulah yang membuat langkahnya tetap kuat.

Keesokan harinya, saat bertemu teman-temannya lagi, Aisyah kembali terlihat seperti biasa. Ia tersenyum, berbicara, dan menjalani hari seperti orang lain pada umumnya.

Tidak ada yang tahu isi hatinya.

Karena memang begitu seringnya rindu bekerja diam-diam, tanpa banyak suara.

Aisyah mungkin terlihat baik-baik saja. Terlihat kuat. Terlihat biasa saja di depan orang lain.

Namun sebenarnya, jauh di dalam hatinya, ada satu perasaan yang tidak pernah benar-benar pergi.

Kelihatan biasa saja.

Tapi aslinya, ia rindu. 🤍

Tidak ada komentar:

Posting Komentar