Rindu Yang Tak Tersampaikan
Oleh: zunita
afifah
Pagi itu berjalan seperti biasa. Matahari baru naik perlahan, dan suara kendaraan mulai ramai di jalan depan kos. Aisyah duduk di tepi tempat tidurnya sambil menatap layar ponsel. Tidak ada pesan baru. Ia menghela napas pelan, lalu berdiri dan bersiap pergi ke kampus.
Di depan teman-temannya, Aisyah terlihat
sama seperti biasanya. Ia tertawa saat temannya bercerita, ikut berdiskusi di
kelas, bahkan sesekali bercanda. Tidak ada yang tahu bahwa di balik wajah yang
tampak tenang itu, ada perasaan yang sering datang diam-diam.
Rindu.
Rindu yang tidak selalu bisa ia ceritakan
kepada siapa pun.
Saat dosen menjelaskan materi di kelas,
pikirannya kadang melayang jauh. Ia teringat rumahnya yang sederhana, suara
ibunya yang memanggil dari dapur, dan ayahnya yang sering pulang dari kebun
menjelang sore. Hal-hal kecil yang dulu terasa biasa saja, sekarang justru
terasa sangat berharga.
Siang hari, setelah kelas selesai, Aisyah
berjalan pulang menuju kos. Langkahnya pelan. Di sepanjang jalan, ia melihat
banyak orang sibuk dengan urusan masing-masing. Ada yang tertawa bersama
temannya, ada yang berbicara di telepon, ada juga yang berjalan sendirian
seperti dirinya.
Hidup di perantauan mengajarkan banyak
hal. Tentang mandiri, tentang mengatur waktu, tentang bertanggung jawab atas
diri sendiri. Semua orang bilang itu bagian dari proses menjadi dewasa.
Aisyah tahu itu benar.
Tapi menjadi dewasa ternyata tidak selalu
mudah.
Malam hari adalah waktu yang paling
sunyi. Setelah semua tugas selesai dan teman-teman mulai kembali ke kamar
masing-masing, suasana menjadi lebih tenang. Kadang hanya terdengar suara kipas
angin yang berputar pelan.
Di saat seperti itu, rasa rindu sering
datang tanpa diundang.
Aisyah membuka galeri ponselnya. Ada
banyak foto keluarga di sana. Foto saat berkumpul di ruang tamu, foto saat
makan bersama, dan foto sederhana di depan rumah. Ia tersenyum kecil saat
melihatnya.
“Di rumah sekarang lagi apa ya?” gumamnya
pelan.
Ia membayangkan ibunya yang mungkin
sedang menyiapkan makan malam, dan ayahnya yang mungkin baru saja pulang dari
kebun. Pikiran itu membuat hatinya terasa hangat, sekaligus sedikit perih.
Terkadang Aisyah ingin sekali pulang.
Duduk di ruang tamu, mendengar cerita ayahnya, atau sekadar membantu ibunya di
dapur. Hal-hal sederhana yang dulu sering ia anggap biasa.
Sekarang semuanya terasa berbeda.
Namun ia tahu, perjalanan yang sedang ia
jalani ini juga penting. Ia datang jauh-jauh untuk belajar, untuk menuntut
ilmu, dan untuk membanggakan orang tuanya suatu hari nanti.
Kadang ia teringat pesan ibunya sebelum
berangkat merantau.
“Yang sabar ya, Nak. Belajar yang rajin.
Rumah selalu menunggu kamu pulang.”
Kalimat itu sering terngiang di
kepalanya.
Malam semakin larut. Aisyah akhirnya
menutup galeri ponselnya dan merebahkan diri di tempat tidur. Ia menatap
langit-langit kamar kos yang sederhana. Tidak ada yang istimewa, tapi di tempat
itulah ia sedang belajar tentang kehidupan.
Ia belajar bahwa rindu bukanlah sesuatu
yang harus dihindari. Justru rindu mengingatkannya bahwa ada rumah yang selalu
menunggu, ada keluarga yang selalu mendoakan dari jauh.
Dan mungkin itulah yang membuat
langkahnya tetap kuat.
Keesokan harinya, saat bertemu
teman-temannya lagi, Aisyah kembali terlihat seperti biasa. Ia tersenyum,
berbicara, dan menjalani hari seperti orang lain pada umumnya.
Tidak ada yang tahu isi hatinya.
Karena memang begitu seringnya rindu
bekerja diam-diam, tanpa banyak suara.
Aisyah mungkin terlihat baik-baik saja.
Terlihat kuat. Terlihat biasa saja di depan orang lain.
Namun sebenarnya, jauh di dalam hatinya,
ada satu perasaan yang tidak pernah benar-benar pergi.
Kelihatan biasa saja.
Tapi aslinya, ia rindu. 🤍

Tidak ada komentar:
Posting Komentar