Kamis, 19 Maret 2026

EMAS DI BALIK KESULITAN

 

EMAS DI BALIK KESULITAN

Oleh : Camilya Taufiquz Zahra

 


Pagi itu langit terlihat mendung, udara disekolah terasa sejuk setelas semalaman turun hujan. Para siswa mulai berdatangan dan menuju kelas masing-masing. Suara percakapan, canda tawa, dan decitan sepatu terdengar dari berbagai sudut lorong.

Di salah satu kelas, termenunglah seorang siswi cantik bernama Adinda. Dia memandang keluar jendela sambil merenungkan sesuatu.

“Hari ini, Bu Rina akan membagikan hasil nilai ulangan kemarin, gimana ya nilaiku?” ucap Adinda dalam hati. Hal itu membuat hati Adinda merasa gelisah.

Tak lama kemudian, Bu Rina masuk kedalam kelas sambil membawa setumpuk kertas.

“Selamat pagi, anak-anak,” sapa Bu Rina.

“Pagi Bu,” jawab para siswa-siswi serentak.

“Baik, hari ini ibu akan membagikan nilai hasil ulangan kemarin, ya. Semoga hasilnya sesuai dengan usaha yang telah kalian lakukan,” kata Bu Rina sambil membagikan satu per satu kertas kepada siswa-siswinya.

Beberapa siswa terlihat bersemangat melihat nilai hasil ulangan mereka. Ada yang tersenyum puas, ada yang langsung membandingkan dengan teman sebangkunya, dan juga ada yang kurang puas dengan nilainya.

Ketika giliran Adinda tiba, dia menerima kertas itu dengan hati yang gelisah. Perlahan ia melihat angka yang tertera di atas pojok kertas ulangannya. Seketika itu wajahnya berubah menjadi murung. Dan ya, nilainya tidak sempurna.

Adinda menunduk, merenung, dan menatap kertas itu cukup lama. Dia merasa kecewa dengan dirinya sendiri. Padahal dia sudah belajar sebisa mungkin, tetapi hasilnya tidak sesuai dengan apa yang dia bayangkan.

Dan dia melihat teman sebangkunya, Fatimah, tampak tersenyum bahagia melihat nilai hasil ulangannya.

“Alhamdulillah, nilaiku bagus,” kata Fatimah.

Di samping itu, Adinda mencoba tersenyum walaupun hatinya terasa berat.

Saat pelajaran berlangsung, Adinda tidak terlalu fokus dengan apa yang diajarkan oleh Bu Rina sebab terlalu memikirkan hasil ulangannya tadi. Dia takut jika orang tuanya mengetahui nilainya dan dia akan dimarahi.

“Kenapa aku selalu tertinggal, ya?” tanyanya kepada dirinya sendiri.

Setelah jam pelajaran selesai dan tibalah waktu pulang, teman-teman Adinda  mulai berhamburan keluar kelas. Berbeda dengan Adinda yang masih termenung di bangkunya.

Bu Rina yang menyadari hal itu, beliau langsung menghampiri Adinda.

“Hai Adinda. Kenapa kamu belum pulang?” tanya Bu Rina.

Adinda yang sedang termenung pun terkejut dibuatnya.

“Belum Bu.”

“Kok kamu kelihatan sedih begitu? Ada apa? Sini cerita sama Ibu,” ucap Bu Rina.

Adinda terdiam, awalnya dia ragu untuk mengucapkannya, tetapi akhirnya dia memberanikan diri untuk bercerita.

“Sebenarnya saya sudah belajar sebelum ulangan Bu, tapi kenapa nilai saya masih  jelek, ya? Saya takut mengecewakan orang tua saya.”

Bu Rina tersenyum.

“Adinda, setiap orang memiliki kemampuan dan proses belajar masing-masing, tidak semua orang langsung berhasil dalam sekali mencoba.” Ucap Bu Rina menenangkan Adinda.

“Tapi saya merasa usaha yang sudah saya lakukan sia-sia Bu,” ucap Adinda pelan.

“Tidak ada usaha yang sia-sia, Adinda. Jika kamu terus berusaha dan tidak menyerah pasti akan ada hasil yang baik, usahamu tidak akan menghianati hasil.”

Kata-kata itu membuat Adinda terdiam dan memikirkan usaha-usaha yang telah dilakukan. Sebelum Adinda berdiri dari bangkunya, Bu Rina berkata kembali,

“Yang penting bukan hanya nilai, tapi bagaimana usaha dan kerja kerasmu untuk menjadi pribadi yang lebih baik.”

Adinda mengangguk pelan,

“Terimakasih, Bu.”

Setelah itu Adinda berpamitan untuk pulang. Sepanjang perjalanan, kata-kata itu terus terngiang di pikiran Adinda. Setelah sampai di rumahnya, dia langsung masuk kamar dan duduk di meja belajar dan membuka Kembali buku pelajarannya. Awalnya, dia malas dan bingung harus memulainya darimana, tapi dia ingat dengan perkataan Bu Rina untuk terus berusaha dan tidak mudah menyerah.

“Baiklah, aku akan mencoba belajar lebih giat lagi.” ucapnya mulai menyemamangati dirinya sendiri.

Malam ini Adinda tampak lebih semangt belajar daripada hari sebelumnya. Dia mulai fokus membaca dan belajar memahami pelajarannya. Jika ada bagian yang belum di pahami, dia memberikan tanda pada bukunya, dan akan menanyakan pada temannya besok.

Keesokan harinya setelah sampai di kelas, dia memberanikan diri untuk bertanya kepada Fatimah.

“Fatimah, bolehkan aku bertanya tentang pelajaran kemarin?”

Fatimah tersenyum, “Boleh, nanti kita belajar setelah pulang sekolah aja.”

Adinda tersenyum mendengarnya. Dia tidak lagi merasa kesulitan sendiri. Sejak saat itu dia mulai merubah kebiasaannya, belajar lebih teratur dan tidak malu bertanya jika belum memahami sesuatu.

Hari demi hari telah berlalu, Adinda menjadi lebih mudah memahami sesuatu, tidak lagi merasa tertinggal, dan lebih merasa lebih percaya diiri.

Beberapa hari kemudian, ulangan kembali di adakan. Kali ini Adinda tidak terlalu merasa gelisah. Dia mulai mengerjakan soal tersebut dengan sungguh-sungguh, dan lebih tenang.

Pada hari dimana nilai hasil ulangannya di bagikan, jantung Adinda kembali bergetar. Ketika kertas ulangan sudah ada ditangannya mulutnya berkomat-kamit sambil membaca basmalah. Pada saat dia melihat hasilnya, ia terkejut karena hasilnya meningkat cukup banyak.

“Yey, I did it,” ucap Adinda dengan wajah berseri.

Di sisi lain, Bu Rina yang menyadari itu pun Lngsung menghampiri Adinda.

“Bagaimana hasilnya, Adinda?” tanya Bu Rina.

“Alhamdulillah, Bu, sedikit demi sedikit nilai saya sudah meningkat,” jawabnya.

“Alhamdulillah, bagus sekali, itulah hasih dari usaha dan kerja kerasmu.” kata Bu Rina.

Sejak saat itu,  Adinda merasa lebih percaya diri. Dia menyadari bahwa kesulitan bukanlah hal yang harus di khawatirkan. Kesulitan justru menjadi pelajaran bagi kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Kini Adinda tidak lagi berkecil hati, dia memahami bahwa setiap orang memiliki perjalanan belajar yang berbeda. Yang terpenting adalah terus berusaha, bersabar, dan tidak mudah menyerah.

Dari situlah dia menyadari bahwa setiap kesulitan pasti ada jalan keluarnya  selama seseorang mau berusaha, tidak menyerah, dan tetap berdo’a.

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar