EMAS DI BALIK KESULITAN
Oleh : Camilya Taufiquz Zahra
Pagi itu langit terlihat mendung, udara disekolah
terasa sejuk setelas semalaman turun hujan. Para siswa mulai berdatangan dan
menuju kelas masing-masing. Suara percakapan, canda tawa, dan decitan sepatu terdengar
dari berbagai sudut lorong.
Di salah satu kelas, termenunglah seorang siswi cantik
bernama Adinda. Dia memandang keluar jendela sambil merenungkan sesuatu.
“Hari ini, Bu Rina akan membagikan hasil nilai ulangan
kemarin, gimana ya nilaiku?” ucap Adinda dalam hati. Hal itu membuat hati
Adinda merasa gelisah.
Tak lama kemudian, Bu Rina masuk kedalam kelas sambil
membawa setumpuk kertas.
“Selamat pagi, anak-anak,” sapa Bu Rina.
“Pagi Bu,” jawab para siswa-siswi serentak.
“Baik, hari ini ibu akan membagikan nilai hasil
ulangan kemarin, ya. Semoga hasilnya sesuai dengan usaha yang telah kalian
lakukan,” kata Bu Rina sambil membagikan satu per satu kertas kepada
siswa-siswinya.
Beberapa siswa terlihat bersemangat melihat nilai
hasil ulangan mereka. Ada yang tersenyum puas, ada yang langsung membandingkan
dengan teman sebangkunya, dan juga ada yang kurang puas dengan nilainya.
Ketika giliran Adinda tiba, dia menerima kertas itu
dengan hati yang gelisah. Perlahan ia melihat angka yang tertera di atas pojok
kertas ulangannya. Seketika itu wajahnya berubah menjadi murung. Dan ya,
nilainya tidak sempurna.
Adinda menunduk, merenung, dan menatap kertas itu
cukup lama. Dia merasa kecewa dengan dirinya sendiri. Padahal dia sudah belajar
sebisa mungkin, tetapi hasilnya tidak sesuai dengan apa yang dia bayangkan.
Dan dia melihat teman sebangkunya, Fatimah, tampak
tersenyum bahagia melihat nilai hasil ulangannya.
“Alhamdulillah, nilaiku bagus,” kata Fatimah.
Di samping itu, Adinda mencoba tersenyum walaupun
hatinya terasa berat.
Saat pelajaran berlangsung, Adinda tidak terlalu fokus
dengan apa yang diajarkan oleh Bu Rina sebab terlalu memikirkan hasil
ulangannya tadi. Dia takut jika orang tuanya mengetahui nilainya dan dia akan
dimarahi.
“Kenapa aku selalu tertinggal, ya?” tanyanya kepada
dirinya sendiri.
Setelah jam pelajaran selesai dan tibalah waktu
pulang, teman-teman Adinda mulai
berhamburan keluar kelas. Berbeda dengan Adinda yang masih termenung di
bangkunya.
Bu Rina yang menyadari hal itu, beliau langsung
menghampiri Adinda.
“Hai Adinda. Kenapa kamu belum pulang?” tanya Bu Rina.
Adinda yang sedang termenung pun terkejut dibuatnya.
“Belum Bu.”
“Kok kamu kelihatan sedih begitu? Ada apa? Sini cerita
sama Ibu,” ucap Bu Rina.
Adinda terdiam, awalnya dia ragu untuk mengucapkannya,
tetapi akhirnya dia memberanikan diri untuk bercerita.
“Sebenarnya saya sudah belajar sebelum ulangan Bu,
tapi kenapa nilai saya masih jelek, ya?
Saya takut mengecewakan orang tua saya.”
Bu Rina tersenyum.
“Adinda, setiap orang memiliki kemampuan dan proses
belajar masing-masing, tidak semua orang langsung berhasil dalam sekali
mencoba.” Ucap Bu Rina menenangkan Adinda.
“Tapi saya merasa usaha yang sudah saya lakukan
sia-sia Bu,” ucap Adinda pelan.
“Tidak ada usaha yang sia-sia, Adinda. Jika kamu terus
berusaha dan tidak menyerah pasti akan ada hasil yang baik, usahamu tidak akan
menghianati hasil.”
Kata-kata itu membuat Adinda terdiam dan memikirkan
usaha-usaha yang telah dilakukan. Sebelum Adinda berdiri dari bangkunya, Bu
Rina berkata kembali,
“Yang penting bukan hanya nilai, tapi bagaimana usaha
dan kerja kerasmu untuk menjadi pribadi yang lebih baik.”
Adinda mengangguk pelan,
“Terimakasih, Bu.”
Setelah itu Adinda berpamitan untuk pulang. Sepanjang
perjalanan, kata-kata itu terus terngiang di pikiran Adinda. Setelah sampai di
rumahnya, dia langsung masuk kamar dan duduk di meja belajar dan membuka
Kembali buku pelajarannya. Awalnya, dia malas dan bingung harus memulainya
darimana, tapi dia ingat dengan perkataan Bu Rina untuk terus berusaha dan
tidak mudah menyerah.
“Baiklah, aku akan mencoba belajar lebih giat lagi.”
ucapnya mulai menyemamangati dirinya sendiri.
Malam ini Adinda tampak lebih semangt belajar daripada
hari sebelumnya. Dia mulai fokus membaca dan belajar memahami pelajarannya.
Jika ada bagian yang belum di pahami, dia memberikan tanda pada bukunya, dan
akan menanyakan pada temannya besok.
Keesokan harinya setelah sampai di kelas, dia
memberanikan diri untuk bertanya kepada Fatimah.
“Fatimah, bolehkan aku bertanya tentang pelajaran
kemarin?”
Fatimah tersenyum, “Boleh, nanti kita belajar setelah
pulang sekolah aja.”
Adinda tersenyum mendengarnya. Dia tidak lagi merasa
kesulitan sendiri. Sejak saat itu dia mulai merubah kebiasaannya, belajar lebih
teratur dan tidak malu bertanya jika belum memahami sesuatu.
Hari demi hari telah berlalu, Adinda menjadi lebih
mudah memahami sesuatu, tidak lagi merasa tertinggal, dan lebih merasa lebih
percaya diiri.
Beberapa hari kemudian, ulangan kembali di adakan.
Kali ini Adinda tidak terlalu merasa gelisah. Dia mulai mengerjakan soal
tersebut dengan sungguh-sungguh, dan lebih tenang.
Pada hari dimana nilai hasil ulangannya di bagikan,
jantung Adinda kembali bergetar. Ketika kertas ulangan sudah ada ditangannya
mulutnya berkomat-kamit sambil membaca basmalah. Pada saat dia melihat
hasilnya, ia terkejut karena hasilnya meningkat cukup banyak.
“Yey, I did it,” ucap Adinda dengan wajah berseri.
Di sisi lain, Bu Rina yang menyadari itu pun Lngsung
menghampiri Adinda.
“Bagaimana hasilnya, Adinda?” tanya Bu Rina.
“Alhamdulillah, Bu, sedikit demi sedikit nilai saya
sudah meningkat,” jawabnya.
“Alhamdulillah, bagus sekali, itulah hasih dari usaha
dan kerja kerasmu.” kata Bu Rina.
Sejak saat itu,
Adinda merasa lebih percaya diri. Dia menyadari bahwa kesulitan bukanlah
hal yang harus di khawatirkan. Kesulitan justru menjadi pelajaran bagi kita
untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Kini Adinda tidak lagi berkecil hati, dia memahami
bahwa setiap orang memiliki perjalanan belajar yang berbeda. Yang terpenting
adalah terus berusaha, bersabar, dan tidak mudah menyerah.
Dari situlah dia menyadari bahwa setiap kesulitan
pasti ada jalan keluarnya selama
seseorang mau berusaha, tidak menyerah, dan tetap berdo’a.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar