Sore di pondok selalu punya suasana yang berbeda saat bulan Ramadhan. Langit mulai berubah warna menjadi jingga, sementara angin sore berhembus pelan melewati halaman pesantren.
Di teras asrama, beberapa santri duduk
bersama sambil menunggu waktu berbuka. Ada yang membaca Al-Qur’an, ada yang
berbincang pelan, dan ada juga yang hanya memandangi langit senja.
Di antara mereka, Icheu duduk sambil
melihat jam dinding di depan asrama.
“Masih lama ya maghrib,” katanya pelan.
Sejak pagi, kegiatan di pondok berjalan
seperti biasa. Icheu mengikuti pelajaran, mengaji, dan membantu membersihkan
lingkungan pondok. Menjelang sore, rasa lapar dan haus mulai terasa.
Nayra, sahabatnya, duduk di sampingnya.
“Capek ya puasa hari ini?” tanya Nayra
sambil tersenyum.
Icheu mengangguk kecil. “Lumayan. Dari
siang rasanya lama sekali.”
Nayra tertawa pelan. “Tapi nanti kalau
adzan sudah terdengar, rasanya langsung lega.”
Icheu ikut tersenyum. Ia tahu benar
perasaan itu. Setiap kali suara adzan maghrib terdengar, semua rasa lelah
seolah hilang begitu saja.
Beberapa santri mulai menyiapkan kurma dan
gelas air untuk berbuka. Dari dapur pondok juga mulai tercium aroma makanan
yang sedang disiapkan.
Langit perlahan semakin redup. Warna jingga
di langit senja mulai memudar.
Icheu memandang ke arah masjid pondok yang
berdiri tenang di ujung halaman. Ia teringat kata-kata ustadzah mereka beberapa
hari yang lalu.
“Puasa bukan hanya tentang menahan lapar
dan haus, tapi juga tentang belajar sabar dan bersyukur.”
Icheu menarik napas pelan. Tiba-tiba ia
merasa lebih tenang.
Tak lama kemudian, suara adzan maghrib
terdengar dari masjid.
“Allahu Akbar, Allahu Akbar…”
Semua santri langsung membaca doa berbuka. Icheu
mengambil sebutir kurma dan memakannya perlahan.
Rasa manis kurma itu terasa begitu nikmat
setelah seharian berpuasa.
Icheu tersenyum kecil. Senja yang sejak
tadi mereka tunggu akhirnya membawa suara adzan yang menenangkan. Di pondok
sederhana itu, Icheu kembali belajar bahwa kesabaran selalu berakhir dengan
kebahagiaan.
Setelah berbuka dengan kurma dan air, para
santri berjalan menuju ruang makan pondok. Makanan sederhana sudah tersaji di
atas meja panjang. Ada nasi hangat, sayur, dan beberapa lauk sederhana.
Walaupun tidak mewah, semua santri makan dengan penuh rasa syukur.
Icheu duduk bersama Nayra dan beberapa
teman lainnya.
“Kalau di rumah biasanya menu buka puasa
lebih banyak,” kata salah satu temannya sambil tersenyum.
Nayra langsung menjawab, “Tapi buka puasa
di pondok juga seru. Ramai-ramai begini rasanya hangat.”
Icheu mengangguk setuju. Walaupun terkadang
ia merindukan rumah, suasana di pondok juga membuatnya merasa tidak sendirian.
Setelah makan, para santri bersiap untuk shalat
maghrib berjamaah di masjid pondok. Langit sudah benar-benar gelap, dan
lampu-lampu di sekitar pesantren mulai menyala.
Suasana masjid terasa tenang. Suara imam
yang membaca ayat-ayat Al-Qur’an terdengar jelas dan menenangkan hati.
Setelah salat maghrib, kegiatan Ramadhan di
pondok masih berlanjut. Para santri membaca Al-Qur’an bersama, lalu bersiap
untuk shalat tarawih.
Icheu duduk sebentar di serambi masjid
sambil melihat langit malam. Bintang-bintang mulai muncul di atas pondok yang
sederhana itu.
Ia tersenyum pelan.
Hari itu memang terasa panjang, penuh rasa
lapar dan lelah. Tapi di balik semua itu, Icheu merasakan sesuatu yang lebih
berharga yaitu kebersamaan, kesabaran, dan ketenangan hati.
Ramadhan di pondok mungkin tidak selalu
mudah, tetapi selalu meninggalkan kenangan yang indah.
Dan setiap senja yang menunggu adzan,
selalu mengajarkan Icheu satu hal sederhana: bahwa menunggu dengan sabar akan
selalu terasa manis pada akhirnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar