Selasa, 24 Maret 2026

Senja yang Menunggu Adzan

 

Senja yang Menunggu Adzan

Oleh: Siti Arbaiah Pasaribu

                                     


 

Sore di pondok selalu punya suasana yang berbeda saat bulan Ramadhan. Langit mulai berubah warna menjadi jingga, sementara angin sore berhembus pelan melewati halaman pesantren.

Di teras asrama, beberapa santri duduk bersama sambil menunggu waktu berbuka. Ada yang membaca Al-Qur’an, ada yang berbincang pelan, dan ada juga yang hanya memandangi langit senja.

Di antara mereka, Icheu duduk sambil melihat jam dinding di depan asrama.

“Masih lama ya maghrib,” katanya pelan.

Sejak pagi, kegiatan di pondok berjalan seperti biasa. Icheu mengikuti pelajaran, mengaji, dan membantu membersihkan lingkungan pondok. Menjelang sore, rasa lapar dan haus mulai terasa.

Nayra, sahabatnya, duduk di sampingnya.

“Capek ya puasa hari ini?” tanya Nayra sambil tersenyum.

Icheu mengangguk kecil. “Lumayan. Dari siang rasanya lama sekali.”

Nayra tertawa pelan. “Tapi nanti kalau adzan sudah terdengar, rasanya langsung lega.”

Icheu ikut tersenyum. Ia tahu benar perasaan itu. Setiap kali suara adzan maghrib terdengar, semua rasa lelah seolah hilang begitu saja.

Beberapa santri mulai menyiapkan kurma dan gelas air untuk berbuka. Dari dapur pondok juga mulai tercium aroma makanan yang sedang disiapkan.

Langit perlahan semakin redup. Warna jingga di langit senja mulai memudar.

Icheu memandang ke arah masjid pondok yang berdiri tenang di ujung halaman. Ia teringat kata-kata ustadzah mereka beberapa hari yang lalu.

“Puasa bukan hanya tentang menahan lapar dan haus, tapi juga tentang belajar sabar dan bersyukur.”

Icheu menarik napas pelan. Tiba-tiba ia merasa lebih tenang.

Tak lama kemudian, suara adzan maghrib terdengar dari masjid.

“Allahu Akbar, Allahu Akbar…”

Semua santri langsung membaca doa berbuka. Icheu mengambil sebutir kurma dan memakannya perlahan.

Rasa manis kurma itu terasa begitu nikmat setelah seharian berpuasa.

Icheu tersenyum kecil. Senja yang sejak tadi mereka tunggu akhirnya membawa suara adzan yang menenangkan. Di pondok sederhana itu, Icheu kembali belajar bahwa kesabaran selalu berakhir dengan kebahagiaan.

Setelah berbuka dengan kurma dan air, para santri berjalan menuju ruang makan pondok. Makanan sederhana sudah tersaji di atas meja panjang. Ada nasi hangat, sayur, dan beberapa lauk sederhana. Walaupun tidak mewah, semua santri makan dengan penuh rasa syukur.

Icheu duduk bersama Nayra dan beberapa teman lainnya.

“Kalau di rumah biasanya menu buka puasa lebih banyak,” kata salah satu temannya sambil tersenyum.

Nayra langsung menjawab, “Tapi buka puasa di pondok juga seru. Ramai-ramai begini rasanya hangat.”

Icheu mengangguk setuju. Walaupun terkadang ia merindukan rumah, suasana di pondok juga membuatnya merasa tidak sendirian.

Setelah makan, para santri bersiap untuk shalat maghrib berjamaah di masjid pondok. Langit sudah benar-benar gelap, dan lampu-lampu di sekitar pesantren mulai menyala.

Suasana masjid terasa tenang. Suara imam yang membaca ayat-ayat Al-Qur’an terdengar jelas dan menenangkan hati.

Setelah salat maghrib, kegiatan Ramadhan di pondok masih berlanjut. Para santri membaca Al-Qur’an bersama, lalu bersiap untuk shalat tarawih.

Icheu duduk sebentar di serambi masjid sambil melihat langit malam. Bintang-bintang mulai muncul di atas pondok yang sederhana itu.

Ia tersenyum pelan.

Hari itu memang terasa panjang, penuh rasa lapar dan lelah. Tapi di balik semua itu, Icheu merasakan sesuatu yang lebih berharga yaitu kebersamaan, kesabaran, dan ketenangan hati.

Ramadhan di pondok mungkin tidak selalu mudah, tetapi selalu meninggalkan kenangan yang indah.

Dan setiap senja yang menunggu adzan, selalu mengajarkan Icheu satu hal sederhana: bahwa menunggu dengan sabar akan selalu terasa manis pada akhirnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar