Kamis, 19 Maret 2026

PENGARUH DIGITALISASI TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI DALAM MEMBANTU UMKM

 

PENGARUH DIGITALISASI TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI DALAM MEMBANTU UMKM

Penulis: M. Yusuf Wildan

 


Diera yang serba instan ini membuat segala pekerjaan manusia yang tadinya dikerjakan dengan waktu yang cukup lama, sekarang dengan hadirnya teknologi semuanya bisa dikerjakan dengan cepat dan efisien. Digitalisasi dapat membantu pekerjaan manusia dari segala bidang dari mulai komunikasi, transportasi, pendidikan, perkebunan, dan bahkan dalam bidang jual beli suatu barang. Kali ini kita akan membahas perang digitalisasi dalam bidang ekonomi, apa saja dan bagai mana perang digitalisasi dalam perekonomian bangsa. digitalisasi merupakan suatu proses perubahan atau transformasi dari sistem analog, manual, atau fisik menjadi sistem digital yang terkomputerisasi.

Indonesia sebagai salah satu negara dengan penduduk dan pengguna internet terbanyak di dunia, menjadikan Indonesia sebagai mangsa pasar yang potensial dalam memasarkan sebuah produk. Dilansir dari Kompas.com sampai sekarang pengguna internet di Indonesia mencapai 202,6 juta jiwa pada awal tahun 2021 atau mengalami peningkatan sebesar 15,5 persen jika dibandingkan pada awal tahun lalu. Keadaan ini bisa menjadi keuntungan maupun ancaman bagi Negara Indonesia. (Diffa Kamiilah Afrida, 2021)

Digitalisasi bisa menjadi sebuah strategi bagus buat para UMKM untuk mengembangkan dan mengelola usahanya mulai dari untuk pemasaran, distribusi, produksi, dan proses pembayaran semuanya hampir bisa diproses secara digital. Melalui kementrian koperasi dan UMKM, Indonesia secara kusus memiliki program untuk membangun keberadaan koperasi dan usaha kecil dan menengah. Pada setiap masa pemerintahan, pemerintah memiliki kabinet yang memiliki spesifikasi program-program tertentu untuk mencapai sasaran yang sesuai dengan visi dan misi pemerintah[1]. Baik untuk UMKM besar ataupun kecil semua bisa memanfaatkannya, dan pemerintah juga harus ikut serta mensosialisasikan kepada para UMKM dengan memberikan pelatihan kepada pelaku UMKM cara penggunaan dan pengelolaan usaha dengan basis digita. Menurut Don Tapscott, ekonomi digital mempunyai 12 atribut. (1) Knowledge. Di ekonomi digital, power of the knowledge diterjemahkan menjadi inovasi-inovasi unggul lewat kesempatan-kesempatan terbaru untuk menciptakan keunggulan kompetitif. (2) Digitization. Transaksi bisnis menggunakan digital technology dan digital information. Pelanggan-pelanggan sebagai digital customers menggunakan digital devices untuk melakukan transaksi dengan perusahaan-perusahaan penjual barang dan jasa sebagai digital enterprises. (3) Virtualization. Di ekonomi digital dimungkinkan untuk merubah barang fisik menjadi barang virtual. Modal intelektual dikonversikan menjadi modal digital. (4) Molecularization. Di ekonomi digital, heavy organization di organisasi tradisional berubah menjadi light organization yang fleksibel, M-form organization (organisasi multidivisional) bergeser menjadi E-form organization atau ecosystem form organization yang mudah beradaptasi dengan lingkungan. (5) Internetworking. Menggunakan jaringan internet untuk membangun interkoneksi membentuk jaringan ekonomi. (6) Disintermediation. Tidak diperlukan lagi perantara, transaksi dapat dilakukan langsung peer-to-peer. (7) Convergence. Konvergensi komputasi, komunikasi, dan konten bersama-sama membentuk multimedia interaktif yang menjadi platform yang penting. (8) Innovation. Imaginasi dan kreativitas manusia merupakan sumbersumber nilai utama membentuk innovation economy. (9) Prosumption. Di ekonomi lama aspek kunci adalah mass production, sedang di ekonomi digital adalah mass customization. Perbedaan antara produser dan customer menjadi kabur, setiap customer di information highway dapat juga menjadi produser. (10) Immediacy. Perbedaan waktu saat memesan barang dengan saat diproduksi dan dikirim menyusut secara drastis disebabkan kecepatan proses digital technology. (11) Globalization. Menurut Peter Drucker "knowledge knows no boundaries." Tidak ada batas untuk transaksi global. (12) Discordance. Akan muncul jurang pemisah antara yang memahami teknologi dengan yang tidak memahami teknologi. Supaya survive, semua pemain di ekonomi digital harus technologically literate yaitu mampu mengikuti technological shifts menuju interaksi dan integrasi dalam bentuk internetworked economy[2]. Hal ini menjadi penting untuk melakukan pemerataan teknologi di berbagai kalangan masyarakat terutama bagi para pelaku UMKM.

Selain   itu,   pemerintah   daerah   dapat   memfasilitasi   pemberian   lisensi perangkat  lunak  gratis  atau  subsidi  aplikasi  selama  periode  awal  penggunaan, guna  mengatasi  kendala  biaya  yang  selama  ini  menjadi  hambatan.  Dalam  upaya mendampingi  proses  transisi  ini,  diperlukan  juga  pendampingan  teknis  intensif selama  tiga  bulan  yang  dilakukan  secararutin,  baik  secara  tatap  muka  maupun daring. Pendampingan ini penting untuk memberikan solusi atas masalah teknis yang  mungkin  dihadapi  pengguna  baru  dan  sekaligus  mendorong  keberlanjutan penggunaan  teknologi.  Untuk  memperkuat  eksekusi  program,  peran  komunitas lokal dan institusi pendidikan tinggi seperti perguruan tinggi atau politeknik dapat dioptimalkan sebagai mitra strategis. Mahasiswa dari jurusan teknologi informasi, manajemen,  atau  kewirausahaan  dapat  dilibatkan  dalam  program  magang  atau pengabdianmasyarakat untuk memberikan pendampingan teknis secara langsung kepada   UMKM.   Kolaborasi   ini   tidak   hanya   akan   menambah   sumber   daya pelaksana  program,  tetapi  juga  memperkuat  keterlibatan  sosial  dalam  proses digitalisasi ekonomi lokal secara berkelanjutan.[3]

Di tengah era yang serba instan, digitalisasi bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan bagi perekonomian bangsa. Indonesia, dengan ratusan juta pengguna internetnya, berdiri di ambang peluang besar sekaligus tantangan nyata. Agar UMKM kita tidak hanya menjadi penonton di pasar yang luas ini, kolaborasi antara inovasi digital dan dukungan pemerintah melalui pelatihan teknologi menjadi kunci. Intinya, masa depan ekonomi kita terletak pada kemampuan para pelakunya untuk melek teknologi dan beradaptasi dengan 12 atribut ekonomi digital demi terciptanya ekosistem usaha yang tangguh dan global.

Digitalisasi telah mengubah paradigma ekonomi Indonesia dari sistem manual ke sistem digital yang lebih cepat dan efisien. Dengan jumlah pengguna internet yang mencapai lebih dari 202 juta jiwa, Indonesia memiliki potensi pasar yang besar sekaligus tantangan dalam literasi teknologi. Melalui penerapan 12 atribut ekonomi digital menurut Don Tapscott—seperti inovasi, virtualisasi, dan globalisasi—digitalisasi menjadi strategi krusial bagi UMKM untuk berkembang. Namun, keberhasilan transformasi ini sangat bergantung pada peran pemerintah dalam memberikan pelatihan dan sosialisasi agar pelaku usaha dapat beradaptasi dengan perubahan teknologi dan menghindari jurang pemisah digital

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Diffa Kamiilah Afrida, E. W. (2021). Peran Digitalisasi Koperasi Sebagai Pendongkrak UMKM. Prosiding Seminar Nasional Ekonomi Pembangunan, 152-153.

Ismi Islamiati, S. Q. (2025). Peran digitalisasi dalam pemberdayaan ekonomi UMKM melalui aplikasi kasir pintar. Jurnal Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (JP2M), 547-549.

Widiyanti., S. M. (2020). STRATEGI PENGEMBANGAN DIGITALISASI USAHA MIKRO KECIL MENENGAH (UMKM). DIGITALISASI UMKM.

Wijoyo, H. (2020). digitalisasi umkm. Kapalo: insan cendikia mandiri.

 

 

 

 



[1] Diffa Kamiilah Afrida, E. W. (2021). Peran Digitalisasi Koperasi Sebagai Pendongkrak UMKM.  Prosiding Seminar Nasional Ekonomi Pembangunan, 152-153.

 

 

[2] Wijoyo, H. (2020). digitalisasi umkm. Kapalo: insan cendikia mandiri

[3] Ismi Islamiati*, Shofi Qurrotul ’Aini, Aan Anisah, Nasir Asman. (2025). Peran digitalisasi dalam   pemberdayaan ekonomi UMKM melalui aplikasi kasir pintar. Hal 554

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar