PENGARUH
DIGITALISASI TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI DALAM MEMBANTU UMKM
Penulis:
M. Yusuf Wildan
Diera
yang serba instan ini membuat segala pekerjaan manusia yang tadinya dikerjakan
dengan waktu yang cukup lama, sekarang dengan hadirnya teknologi semuanya bisa
dikerjakan dengan cepat dan efisien. Digitalisasi dapat membantu pekerjaan
manusia dari segala bidang dari mulai komunikasi, transportasi, pendidikan,
perkebunan, dan bahkan dalam bidang jual beli suatu barang. Kali ini kita akan
membahas perang digitalisasi dalam bidang ekonomi, apa saja dan bagai mana
perang digitalisasi dalam perekonomian bangsa. digitalisasi merupakan
suatu proses perubahan atau transformasi dari sistem analog, manual, atau fisik
menjadi sistem digital yang terkomputerisasi.
Indonesia
sebagai salah satu negara dengan penduduk dan pengguna internet terbanyak di
dunia, menjadikan Indonesia sebagai mangsa pasar yang potensial dalam
memasarkan sebuah produk. Dilansir dari Kompas.com sampai sekarang pengguna
internet di Indonesia mencapai 202,6 juta jiwa pada awal tahun 2021 atau
mengalami peningkatan sebesar 15,5 persen jika dibandingkan pada awal tahun
lalu. Keadaan ini bisa menjadi keuntungan maupun ancaman bagi Negara Indonesia.
Digitalisasi bisa menjadi sebuah strategi
bagus buat para UMKM untuk mengembangkan dan mengelola usahanya mulai dari
untuk pemasaran, distribusi, produksi, dan proses pembayaran semuanya hampir
bisa diproses secara digital. Melalui kementrian koperasi dan UMKM, Indonesia
secara kusus memiliki program untuk membangun keberadaan koperasi dan usaha
kecil dan menengah. Pada setiap masa pemerintahan, pemerintah memiliki kabinet
yang memiliki spesifikasi program-program tertentu untuk mencapai sasaran yang
sesuai dengan visi dan misi pemerintah[1]. Baik untuk UMKM besar
ataupun kecil semua bisa memanfaatkannya, dan pemerintah juga harus ikut serta
mensosialisasikan kepada para UMKM dengan memberikan pelatihan kepada pelaku
UMKM cara penggunaan dan pengelolaan usaha dengan basis digita. Menurut Don
Tapscott, ekonomi digital mempunyai 12 atribut. (1) Knowledge. Di ekonomi
digital, power of the knowledge diterjemahkan menjadi inovasi-inovasi unggul
lewat kesempatan-kesempatan terbaru untuk menciptakan keunggulan kompetitif.
(2) Digitization. Transaksi bisnis menggunakan digital technology dan digital
information. Pelanggan-pelanggan sebagai digital customers menggunakan digital
devices untuk melakukan transaksi dengan perusahaan-perusahaan penjual barang
dan jasa sebagai digital enterprises. (3) Virtualization. Di ekonomi digital
dimungkinkan untuk merubah barang fisik menjadi barang virtual. Modal
intelektual dikonversikan menjadi modal digital. (4) Molecularization. Di
ekonomi digital, heavy organization di organisasi tradisional berubah menjadi
light organization yang fleksibel, M-form organization (organisasi
multidivisional) bergeser menjadi E-form organization atau ecosystem form
organization yang mudah beradaptasi dengan lingkungan. (5) Internetworking.
Menggunakan jaringan internet untuk membangun interkoneksi membentuk jaringan
ekonomi. (6) Disintermediation. Tidak diperlukan lagi perantara, transaksi
dapat dilakukan langsung peer-to-peer. (7) Convergence. Konvergensi komputasi,
komunikasi, dan konten bersama-sama membentuk multimedia interaktif yang
menjadi platform yang penting. (8) Innovation. Imaginasi dan kreativitas
manusia merupakan sumbersumber nilai utama membentuk innovation economy. (9)
Prosumption. Di ekonomi lama aspek kunci adalah mass production, sedang di
ekonomi digital adalah mass customization. Perbedaan antara produser dan
customer menjadi kabur, setiap customer di information highway dapat juga
menjadi produser. (10) Immediacy. Perbedaan waktu saat memesan barang dengan
saat diproduksi dan dikirim menyusut secara drastis disebabkan kecepatan proses
digital technology. (11) Globalization. Menurut Peter Drucker "knowledge
knows no boundaries." Tidak ada batas untuk transaksi global. (12)
Discordance. Akan muncul jurang pemisah antara yang memahami teknologi dengan
yang tidak memahami teknologi. Supaya survive, semua pemain di ekonomi digital
harus technologically literate yaitu mampu mengikuti technological shifts
menuju interaksi dan integrasi dalam bentuk internetworked economy[2]. Hal ini menjadi penting
untuk melakukan pemerataan teknologi di berbagai kalangan masyarakat terutama
bagi para pelaku UMKM.
Selain
itu, pemerintah daerah
dapat memfasilitasi pemberian
lisensi perangkat lunak gratis
atau subsidi aplikasi
selama periode awal
penggunaan, guna mengatasi kendala
biaya yang selama
ini menjadi hambatan.
Dalam upaya mendampingi proses
transisi ini, diperlukan
juga pendampingan teknis
intensif selama tiga bulan
yang dilakukan secararutin,
baik secara tatap
muka maupun daring. Pendampingan
ini penting untuk memberikan solusi atas masalah teknis yang mungkin
dihadapi pengguna baru
dan sekaligus mendorong
keberlanjutan penggunaan
teknologi. Untuk memperkuat
eksekusi program, peran
komunitas lokal dan institusi pendidikan tinggi seperti perguruan tinggi
atau politeknik dapat dioptimalkan sebagai mitra strategis. Mahasiswa dari
jurusan teknologi informasi, manajemen,
atau kewirausahaan dapat
dilibatkan dalam program
magang atau pengabdianmasyarakat
untuk memberikan pendampingan teknis secara langsung kepada UMKM.
Kolaborasi ini tidak
hanya akan menambah
sumber daya pelaksana program,
tetapi juga memperkuat
keterlibatan sosial dalam
proses digitalisasi ekonomi lokal secara berkelanjutan.[3]
Di tengah era yang serba instan,
digitalisasi bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan bagi perekonomian
bangsa. Indonesia, dengan ratusan juta pengguna internetnya, berdiri di ambang
peluang besar sekaligus tantangan nyata. Agar UMKM kita tidak hanya menjadi
penonton di pasar yang luas ini, kolaborasi antara inovasi digital dan dukungan
pemerintah melalui pelatihan teknologi menjadi kunci. Intinya, masa depan
ekonomi kita terletak pada kemampuan para pelakunya untuk melek teknologi dan
beradaptasi dengan 12 atribut ekonomi digital demi terciptanya ekosistem usaha
yang tangguh dan global.
Digitalisasi telah mengubah paradigma
ekonomi Indonesia dari sistem manual ke sistem digital yang lebih cepat dan
efisien. Dengan jumlah pengguna internet yang mencapai lebih dari 202 juta
jiwa, Indonesia memiliki potensi pasar yang besar sekaligus tantangan dalam
literasi teknologi. Melalui penerapan 12 atribut ekonomi digital menurut Don
Tapscott—seperti inovasi, virtualisasi, dan globalisasi—digitalisasi menjadi
strategi krusial bagi UMKM untuk berkembang. Namun, keberhasilan transformasi
ini sangat bergantung pada peran pemerintah dalam memberikan pelatihan dan
sosialisasi agar pelaku usaha dapat beradaptasi dengan perubahan teknologi dan
menghindari jurang pemisah digital
DAFTAR PUSTAKA
Diffa
Kamiilah Afrida, E. W. (2021). Peran Digitalisasi Koperasi Sebagai
Pendongkrak UMKM. Prosiding Seminar Nasional Ekonomi Pembangunan,
152-153.
Ismi Islamiati,
S. Q. (2025). Peran digitalisasi dalam pemberdayaan ekonomi UMKM melalui
aplikasi kasir pintar. Jurnal Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (JP2M),
547-549.
Widiyanti., S. M.
(2020). STRATEGI PENGEMBANGAN DIGITALISASI USAHA MIKRO KECIL MENENGAH
(UMKM). DIGITALISASI UMKM.
Wijoyo, H.
(2020). digitalisasi umkm. Kapalo: insan cendikia mandiri.
[1]
Diffa Kamiilah Afrida, E. W. (2021).
Peran Digitalisasi Koperasi Sebagai Pendongkrak UMKM. Prosiding Seminar Nasional Ekonomi
Pembangunan, 152-153.
[2] Wijoyo, H. (2020). digitalisasi umkm. Kapalo: insan cendikia
mandiri
[3] Ismi
Islamiati*, Shofi Qurrotul ’Aini, Aan Anisah, Nasir Asman. (2025). Peran
digitalisasi dalam pemberdayaan ekonomi
UMKM melalui aplikasi kasir pintar. Hal 554

Tidak ada komentar:
Posting Komentar