Krisis
Disinformasi dan Polarisasi Sosial Akibat Kecerdasan Buatan (AI) dan Deepfake
dalam Demokrasi Global
Oleh : Dek Indah Lestari
Di era modern
sekarang kecerdasan buatan dan teknologi deepfake sudah sangat populer baik di
kalangan anak hingga orang tua. Generative AI dan teknologi deepfake membawa
perubahan yang sangat besar bagi penggunanya khususnya dalam cara memproduksi
dan mengonsumsi informasi. Namun di sisi lain teknologi ini membuka peluang
inovasi baik di bidang pendidikan, industri kreatif, maupun inovasi lainnya.
Akan tetapi di balik potensi tersebut muncul persoalan baru yang sangat terasa
baik di lingkungan sosial maupun politik. Dalam konteks nasional, hal ini
menjadi semakin mendesak karena kualitas demokrasi sangat bergantung pada
ketersediaan informasi yang akurat serta kemampuan masyarakat dalam menilai
kebenaran informasi secara kritis.[1]
Disinformasi
yang disebabkan oleh AI saat ini bukan hanya berupa teks, melainkan juga gambar
dan video yang terlihat sangat nyata. Masalah ini membuat masyarakat semakin
sulit membedakan antara informasi yang nyata dan yang manipulatif. Dampaknya
bukan hanya kebingungan informasi, tetapi juga menurunnya tingkat kepercayaan
masyarakat terhadap media, pemerintah, bahkan sesama warga.[2] Tak
hanya itu, polarisasi sosial pun semakin tajam ketika kelompok masyarakat hanya
mempercayai informasi yang mereka dapat dari media tertentu tanpa melakukan
verifikasi lebih lanjut.[3] Akibatnya,
ruang diskusi publik menjadi penuh konflik dan dialog konstruktif semakin sulit
diwujudkan.
Jika masalah
ini digali lebih dalam, persoalan ini bukan hanya bersumber dari teknologinya,
tetapi juga dari interaksi berbagai faktor. Kemudahan akses terhadap AI membuat
pengguna dapat dengan mudah menciptakan konten manipulatif atau hoaks. Di sisi
lain, literasi digital masyarakat masih tergolong rendah sehingga belum banyak
yang mampu memverifikasi informasi secara mandiri. Selain itu, algoritma media
sosial yang mengutamakan keterlibatan pengguna sering kali mendorong penyebaran
konten sensasional tanpa memeriksa keakuratannya.[4] Tidak
hanya itu, terdapat pula insentif ekonomi dan politik yang mendorong penyebaran
disinformasi demi keuntungan tertentu. Regulasi yang tertinggal dari perkembangan teknologi semakin
memperumit permasalahan ini.
Untuk menghadapi persoalan yang
kompleks ini, tidak semua aspek masalah dapat ditangani oleh individu. Oleh
karena itu diperlukan fokus yang realistis. Bagian yang memungkinkan untuk saya
intervensi adalah peningkatan literasi digital di lingkungan pelajar maupun
masyarakat. Fokus ini saya pilih karena dapat dilakukan dengan sumber daya
terbatas namun memiliki dampak jangka panjang dalam membentuk pola pikir
kritis.[5]
Sementara itu, aspek seperti reformasi regulasi nasional atau pengembangan
teknologi deteksi deepfake tingkat lanjut memerlukan otoritas serta kapasitas
yang lebih besar dan saat ini masih berada di luar jangkauan saya.
Solusi yang
saya tawarkan adalah program literasi digital kritis bagi pemuda dan
masyarakat. Program ini dapat dilakukan melalui lokakarya yang membahas tentang
hoaks, cara membedakan gambar dan video manipulatif, serta metode memverifikasi
berita secara mandiri. Agar kegiatan ini lebih efektif, pelatihan dapat
dilakukan secara partisipatif melalui studi kasus dan diskusi reflektif.
Pendekatan ini bertujuan agar peserta tidak hanya memahami teori tetapi juga
mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.[6]
Kolaborasi dengan organisasi, lembaga pendidikan, dan mahasiswa juga dapat
meningkatkan keberhasilan implementasi program ini. Program dapat dimulai dari
skala kecil kemudian dievaluasi melalui survei pemahaman peserta sebelum dan
sesudah pelatihan.
Meskipun solusi
yang saya tawarkan relatif sederhana, setiap solusi tentu memiliki risiko dan
konsekuensi. Pelatihan literasi digital dapat saja memiliki partisipasi yang
rendah karena isu ini sering dianggap tidak mendesak. Selain itu, program
literasi digital berpotensi disalahartikan sebagai upaya memihak kelompok
tertentu apabila tidak dijaga netralitasnya. Oleh karena itu diperlukan
pendekatan yang inklusif serta kolaborasi dengan berbagai komunitas. Di sisi
lain, terdapat pula dilema etis antara menjaga kebebasan berekspresi dan
membatasi penyebaran informasi palsu.[7] Dengan
demikian setiap langkah yang diambil harus mempertimbangkan keseimbangan antara
perlindungan publik dan hak individu.
Sebagai
komitmen pribadi, dalam satu tahun ke depan saya berencana menyusun materi
literasi digital berbasis infografik, mengadakan setidaknya dua sesi diskusi
dengan sekolah atau komunitas, serta membuat konten edukasi di media sosial
tentang verifikasi informasi. Langkah ini dirancang agar tetap dapat dijalankan
meskipun dengan sumber daya terbatas, sekaligus memiliki target yang jelas dan
terukur. Menurut saya, kontribusi kecil yang dilakukan secara konsisten lebih
berarti daripada rencana besar yang sulit diwujudkan.
Bagi saya, proses analisis ini
merupakan pembelajaran yang sangat penting. Awalnya saya beranggapan bahwa
teknologi merupakan penyebab utama disinformasi, namun setelah dianalisis
ternyata terdapat berbagai faktor lain yang memiliki peran besar dalam penyebaran
informasi palsu. Saya menyadari bahwa solusi teknologi saja tidak cukup tanpa
perubahan budaya serta peningkatan pendidikan masyarakat.
Pada akhirnya, krisis disinformasi
yang disebabkan oleh kecerdasan buatan generatif dan teknologi deepfake
merupakan tantangan nyata dalam demokrasi modern yang tidak dapat diabaikan.
Walaupun persoalan ini kompleks dan melibatkan banyak faktor struktural,
kontribusi individu tetap memiliki arti penting melalui peningkatan literasi
digital dan kesadaran masyarakat. Perubahan kecil yang dilakukan secara
konsisten dapat menjadi fondasi bagi terciptanya ketahanan informasi serta
kualitas demokrasi yang lebih sehat di masa depan.
DAFTAR PUSTAKA
Agrawal, Ajay, Joshua Gans, dan Avi
Goldfarb. Prediction Machines: The Simple Economics of Artificial
Intelligence. Boston: Harvard Business Review Press, 2018.
Castells, Manuel. Networks of
Outrage and Hope: Social Movements in the Internet Age. Cambridge: Polity
Press, 2015.
Chesney, Paul, dan Danielle K.
Citron. “Deepfakes and the New Disinformation War.” Foreign Affairs 98,
no.1 (2019).
Jenkins, Henry, Sam Ford, dan Joshua
Green. Spreadable Media: Creating Value and Meaning in a Networked Culture.
New York: NYU Press, 2013.
Ribble, Mike. Digital Citizenship
in Schools. Eugene: ISTE, 2015.
Wardle, Claire
dan Hossein Derakhshan. Information
Disorder. Strasbourg: Council of Europe,
2017.
Wardle, Claire. “Fake News. It’s
Complicated.” First Draft News, 2017.
[1] Claire
Wardle dan Hossein Derakhshan, Information Disorder: Toward an
Interdisciplinary Framework for Research and Policy Making (Strasbourg:
Council of Europe, 2017).
[2] Paul Chesney dan
Danielle K. Citron, “Deepfakes and the New Disinformation War,” Foreign
Affairs 98, no.1 (2019).
[3] Manuel
Castells, Networks of Outrage and Hope: Social Movements in the Internet Age
(Cambridge: Polity Press, 2015).
[4] Henry Jenkins, Sam
Ford, dan Joshua Green, Spreadable Media: Creating Value and Meaning in a
Networked Culture (New York: NYU Press, 2013).
[5] Mike
Ribble, Digital Citizenship in Schools (Eugene: ISTE, 2015).
[6] Claire Wardle, “Fake
News. It’s Complicated,” First Draft News, 2017.
[7] Manuel
Castells, Networks of Outrage and Hope: Social Movements in the Internet
Age.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar