Sebuah
Perasaan yang Terhalang
Oleh:
Fina Nur Zakiya
Ada
kalanya perasaan tumbuh seperti hujan yang turun diam-diam. Tak pernah diminta,
tak pernah direncanakan, namun tiba-tiba membasahi seluruh ruang hati. Ia hadir
tanpa aba-aba, menyusup di antara tawa dan percakapan sederhana, lalu menetap
tanpa permisi. Namun, tak semua perasaan diberi ruang untuk berkembang. Ada
yang terhalang oleh waktu, keadaan, bahkan oleh rasa takut yang tak pernah
benar-benar terucap. Ini adalah kisah tentang sebuah perasaan yang terhalang, bukan karena ia salah, tetapi karena ia datang
di waktu yang tak pernah benar-benar tepat.
Sore
itu, halaman kampus
tampak lebih lengang dari biasanya. Angin bulan September berembus lembut,
menggugurkan daun-daun kering di sekitar taman fakultas. Di bangku panjang dekat
perpustakaan, Rasya duduk
sambil menatap layar ponselnya yang tak pernah benar-benar ia perhatikan.
Langkah
kaki itu ia kenal. Ringan, tetapi tergesa.
“Aku
sudah cari kamu dari tadi,” suara itu terdengar lembut namun tegas.
Rasya menoleh. “Naya.”
Naya berdiri di depannya, membawa beberapa
buku tebal. Dengan khas hijabnya
yang rapi.
“Kamu
kenapa nggak jawab pesanku?” tanyanya.
Rasya tersenyum tipis. “Maaf. Lagi banyak
pikiran.”
Naya duduk di sampingnya. “Tentang apa?”
Arka
terdiam. Ia ingin mengatakan bahwa pikirannya dipenuhi oleh sosok yang kini
duduk di sebelahnya. Tentang perasaan yang seharusnya tak ada. Tentang
persahabatan yang mungkin berubah jadi jarak.
“Cuma
soal keluarga,” jawab Rasya
akhirnya.
Naya mengangguk pelan. “Kalau ada apa-apa,
kamu bisa cerita ke aku.”
Kalimat
itu sederhana, tapi justru membuat dada Rasya terasa sesak.
Sejak
awal kuliah, mereka tak pernah benar-benar terpisah. Mengikuti organisasi
bersama, mengerjakan tugas bersama, bahkan sering pulang dengan langkah yang
seirama. Namun, belakangan Rasya
mulai menyadari sesuatu yang berbeda. Setiap Naya tertawa bersama orang lain, hatinya
terasa terusik. Setiap Naya
bercerita tentang laki-laki yang mendekatinya, ada rasa yang sulit ia jelaskan.
Dan
hari itu, perasaan itu kembali diuji.
“Aku
mau cerita sesuatu,” kata Naya
tiba-tiba.
Rasya menoleh. “Apa?”
“Aku…
mungkin akan menerima ajakan Rian.”
Nama
itu terasa seperti dentuman kecil di telinga Rasya.
“Rian?
Anak jurusan sebelah itu?”
Nadia
mengangguk. “Iya. Dia sudah lama mendekatiku. Aku rasa dia serius.”
Rasya mencoba tersenyum. “Bagus dong.”
“Tapi
kamu kok kelihatannya nggak senang?” Naya menatapnya lekat.
Rasya terdiam lama. Angin kembali berembus,
membawa keheningan yang canggung.
“Aku
cuma nggak mau kamu salah pilih,” ucap Rasya pelan.
Naya tersenyum kecil. “Kamu seperti biasanya.
Terlalu protektif.”
Rasya ingin mengatakan yang sebenarnya. Ia
ingin berkata bahwa ia takut kehilangan, bahwa perasaannya bukan lagi sekadar
sahabat. Namun bayangan akan retaknya hubungan mereka membuatnya menelan
kata-kata itu kembali.
Beberapa
hari kemudian, Naya
resmi berpacaran dengan Rian. Sejak saat itu, waktu mereka bersama semakin
berkurang. Pesan yang dulu dibalas cepat, kini menunggu lama. Taman kampus yang
dulu jadi tempat berbagi cerita, kini hanya menyisakan kenangan.
Suatu
malam, Naya
mengirim pesan.
“Rasya, kita ketemu besok ya. Aku ingin
bicara.”
Di
taman yang sama, Naya
berdiri dengan wajah berbeda, lebih
tenang, namun juga lebih jauh.
“Aku
tahu,” katanya pelan, “kamu menyembunyikan sesuatu.”
Rasya tersenyum hambar. “Maksud kamu?”
“Aku
tahu kamu punya perasaan lebih dari sekadar sahabat.”
Jantung
Rasya seakan berhenti.
“Siapa yang bilang?”
“Nggak
perlu ada yang bilang. Aku bisa merasakannya.”
Sunyi
menyelimuti mereka.
“Aku
minta maaf kalau selama ini aku membuatmu berharap,” lanjut Naya.
“Kamu
nggak pernah salah,” jawab Rasya
cepat. “Perasaan ini memang tumbuh tanpa aku minta. Dan mungkin… memang
seharusnya nggak ada.”
Naya menunduk. “Andai kita bertemu di waktu
yang berbeda…”
Rasya mengangguk pelan. “Mungkin ceritanya
juga berbeda.”
Malam
itu, mereka duduk berdampingan tanpa banyak kata. Perasaan itu akhirnya
terucap, tetapi tetap terhalang oleh kenyataan. Bukan karena tak saling peduli,
melainkan karena ada pilihan yang sudah diambil. Dan terkadang, mencintai
berarti merelakan, bukan memiliki.
Waktu
berjalan seperti biasa. Musim berganti, dan jarak perlahan menjadi penenang. Rasya belajar memahami bahwa tak semua rasa
harus diperjuangkan. Ada yang cukup disimpan sebagai pelajaran tentang
ketulusan. Naya pun
melanjutkan hidupnya, sesekali menyapa dengan senyum yang kini terasa berbeda.
Mereka tetap berteman, meski tak lagi sedekat dulu.Perasaan itu pernah ada. Ia
nyata. Namun ia juga telah selesai. Dan di suatu sudut hati, Arka tahu,cinta yang tak memiliki bukan berarti
sia-sia. Ia tetap meninggalkan makna.
Amanat
dari kisah ini adalah bahwa tidak semua perasaan harus dimiliki untuk menjadi
berarti. Kedewasaan terlihat ketika kita mampu menerima kenyataan dan merelakan
sesuatu yang kita cintai. Karena mencintai bukan selalu tentang bersama, tetapi
tentang belajar ikhlas dan menghargai pilihan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar